Webinar “Mewujudkan Pedoman Berita Ramah Penyandang Disabilitas”, Ketua Dewan Pers: Pers Adalah Memungkinkan yang Tidak Mungkin

K.H. Mohammad Nuh sedang menjelaskan tentang betapa pentingnya keberadaan pers bagi orang yang Berkebutuhan Khusus, Foto: Progresnews/Alfa.
K.H. Mohammad Nuh sedang menjelaskan tentang betapa pentingnya keberadaan pers bagi orang yang Berkebutuhan Khusus, Foto: Progresnews/Alfa.

Nasional, Progresnews.id – Pada senin (26/10), Dewan Pers Indonesia mengadakan sebuah webinar bertemakan “Mewujudkan Pedoman Berita Ramah Penyandang Disabilitas”. Webinar ini berlangsung melalui live youtube dimulai sejak pukul 10.00 pagi hingga 12.30 siang, dengan Keynote Speaker oleh Ketua Dewan Pers yakni K.H. Mohammad Nuh.

Pada pengantarnya, K.H. Mohammad Nuh menyampaikan banyak hal, seperti tentang evolusi penyebutan kata disabilitas dan alasan yang menjadi dasar pentingnya pers untuk mendukung dan memberitakan penyandang disabilitas dengan baik.

Awalnya penyebutan untuk orang-orang yang ‘tidak sempurna fisik’ nya adalah kata Cacat. Lalu diganti penyebutan kata Cacat dengan kata Disabilitas. Tetapi kemudian melihat angka Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) yang selalu rendah terhadap para penyandang disabilitas, maka diperlukanlah kebijakan khusus. Dan dari kebijakan khusus inilah, penyebutan untuk penyandang Disabilitas diganti lagi dengan sebutan Berkebutuhan Khusus (Special Needs).

Selain itu, K.H. Mohammad Nuh juga menjelaskan tentang betapa pentingnya keberadaan pers bagi orang yang Berkebutuhan Khusus. Media Pers harus memberi perhatian khusus kepada masyarakat berkebutuhan khusus, sebab selain sebagai tugas Negara hal ini juga sebagai wujud dari tugas kemanusiaan.

Pun ada rumus-rumus yang dibuat oleh K.H. Mohammad Nuh mengenai tugas MEDIA PERS kepada masyarakat berkebutuhan khusus, yakni Educate, Empowering, Enlightning, Entertainment, dan Nasionalism (4E+1N).

“Adanya media adalah untuk memungkinkan yang tidak mungkin. Media harus bisa mempromosikan dan menumbuhkan kesadaran-empati publik tentang penting dan mulianya memberikan perlindungan dan memenuhi hak-hak masyarakat berkebutuhan khusus”, tambahnya.

Di dalam materinya juga disampaikan bahwa Seluruh anak Indonesia harus bisa naik gerbong (Pendidikan) menuju stasiun kejayaan Indonesia 2045. Affirmative Policies menjadi keniscayaan dengan kelompok bawah (miskin) menjadi prioritas utama, sebagaimana filosofi rantai dan mata rantai.

Sebagai penutup dari pengantarnya, K.H. Mohammad Nuh memberikan pesan bahwa “Kesuksesan adalah hak setiap orang, Tugas kita adalah menghantarkan mereka ke depan pintu gerbang kesuksesan”.

Editor. Nashiruddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.