Home / Nasional / Warta

Kamis, 25 Maret 2021 - 18:45 WIB

Testimoni Lima Perempuan Pemimpin, Sama-sama Keluhkan Kurangnya Perhatian Pemerintah

Reporter : Alfa Kamila - Telah dibaca 30 kali

Mama Asnat dan Mama Rahma saat memberikan testimoni dalam webinar

Mama Asnat dan Mama Rahma saat memberikan testimoni dalam webinar "Memperkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Pengelolaan SDA dan Ketahanan Ekologis di Indonesia", Kamis (25/3).

Jakarta, Progresnews.id – Ibu Rosalena dari Palu, Ibu Subiyanti dari Kalimantan Barat, Ibu Sumini dari Damaran Baru Aceh, Mama Asnat dan Mama Rahma dari Fak-Fak Papua, serta Hj. Asnir Umar dari Solok Sumatera Barat, adalah lima perempuan pemimpin yang telah berjuang untuk kesejahteraan dan keberlangsungan alam di tanah mereka. Hari ini, Kamis (25/3) dalam puncak peringatan Hari Perempuan Sedunia, mereka berlima menceritakan bagaimana perjalanan juang mereka selama ini, termasuk keluhan dan harapan kepada pemerintah.

Roslena, perempuan pemimpin dari Palu, menceritakan tentang peran perempuan yang berjuang menyiapkan jalur evakuasi ketika ada bencana datang. Tak hanya bencana yang ditimbulkan oleh alam, tapi juga manusia sekalipun.

“Kalo ada yang datang merusak (penggalian, penambangan) lingkungan, itu kami perempuan langsung ramai-ramai demo ke pemerintah setempat,” Ujarnya.

Selanjutnya, sejak pasca bencana gempa beberapa tahun lalu yang menghabiskan segala hal, Roslena bersama rekan sesama ibu-ibu, mencanangkan untuk menanam pohon di setiap rumah mereka masing-masing. Ia mengakui bahwa perempuan adalah yang paling berdampak ketika ada bencana, seperti ketersediaan air yang kurang, kebutuhan anak dan keluarga, dan lainnya.

Mengenai kendala, Roslena tidak menapik bahwa kaum mereka seringkali disepelekan oleh kaum laki-laki. Roslena ingin setelah ini perempuan dilibatkan dalam proses penanganan bencana. Ia juga menyampaikan harapan kepada pemerintah, supaya lahan-lahan kosong yang banyak di sana diorganisir untuk menjadi lahan yang produktif.

Testimoni Lima Perempuan Pemimpin, Sama-sama Keluhkan Kurangnya Perhatian Pemerintah. Foto: Beritabaru.co
Testimoni Lima Perempuan Pemimpin, Sama-sama Keluhkan Kurangnya Perhatian Pemerintah. Foto: Beritabaru.co

Gerakan menanam pohon juga dikerahkan oleh Subiyanti, perempuan pemimpin dari Borneo Barat. Melihat hutan dan lahan di sana yang sudah banyak habis karena kebakaran, kemudian menjadi gundul, membuat Subiyanti kemudian mengajak kaum perempuan untuk menanami hutan dengan tanaman semampu mereka.

Baca Juga:  Polemik Dampak Lingkungan PT. Jaya Brix, Pemdes Kemantren Lapor ke Camat hingga Kirim Surat ke Bupati

Selain karena itu, Subiyanti mengatakan bahwa para laki-laki banyak yang pergi meninggalkan kampung setelah hutannya habis terbakar. Kondisi tersebut memaksa perempuan untuk menjadi kepala keluarga dan berjuang bertahan hidup dengan alam.

“Mudah-mudahan, supaya menjadi suatu kebijakan dan desa tidak lagi dianggap tidak punya kekuatan, serta kami berharap agar anggaran desa ditambah,” ujarnya.

Sumini dan sebelas rekan perempuannya juga bergerak dalam penanaman pohon di Damaran Baru, Aceh. Selain itu, mereka juga membudidayakan lebah madu yang kini menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat. Sumini juga sering berpatroli mengunjungi hutan bersama rekannya dengan didampingi dua laki-laki, dan meminta mereka untuk mengajari bagaimana menggunakan alat-alat partoli seperti pekerjaan laki-laki.

Sumini bercerita, bahwa apa yang dilakukan bersama rekannya masih kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Selama ini mereka berjalan secara swadaya, tanpa peduli soal keselamatan dan keamanan diri mereka, karena kuranya operasional.

“Kami mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah untuk kegiatan perempuan, keselamatan, keamanan dan kebutuhan,” katanya mengakhiri.

Hj. Asnir Umar saat memberikan testimoni dalam webinar “Memperkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Pengelolaan SDA dan Ketahanan Ekologis di Indonesia”, Kamis (25/3).

Mama Asnat, Mama Rahma, dan Mama Eca, Mama-mama yang bergerak menjadi pelopor di Kokas, salah satu distrik di Fakfak, Papua Barat. Di sana terdiri dari empat belas kampung dengan luas sekitar 78.800 hektare, dan mereka berjuang sejak tahun 2005 dengan jumlah anggota 20 mama, hingga 2018 jumlah mama bertambah menjadi 100 lebih.

Baca Juga:  Akhirnya Menhub Keluarkan Aturan Tentang Gowes, Pesepeda Wajib Tau

Meskipun terhimpun dalam kelompok, mama-mama itu menanam aneka pohon di kebun mereka masing-masing. Di hutan, Mama Asnat bercerita, tanaman pala, kayu besi, dan kayu matoa sudah mulai punah. Maka dari itu mereka tanam lagi agar hutan tidak tandus, rusak, dan banjir.

“Kami terkendala untuk pengadaan bibit pala, informasi bagaimana sumber daya alam juga kami belum tau, kami minta pemerintah untuk bantu kami,” Tutur Mama Rahma.

Mama-mama ini berharap juga, agar pemerintah memperhatikan perjuangan mereka dalam menjaga hutan untuk anak cucu mereka, dan secepatnya mendapat SK agar perjuangan menjadi lancar.

“Hutan adalah sumber kehidupan. Jaga hutan jaga kehidupan,” kata Mama Asnat lantang.

Pun dengan Hj. Asnir Umar, perempuan 75 tahun dari Solok, Sumatera Barat. Ia menceritakan bagaimana perjuangannya tidak dilihat oleh pemerintah setempat. Bahkan, Ibu Asnir pernah membawa masa sebanyak 1400 orang untuk berdemo di kantor bupati, namun bupati enggan menemui mereka.

“Hidup mama-mama papuaaa!! Hutan adalah ibu bagi kami, lindungi hutan maka lindungi ibu!!”

“Apa susahnya, sih, temui kami rakyatnya,” ucapnya.

Hj. Asnir juga meminta pemerintah peduli kepada lingkungan dan rakyatnya dengan membatalkan adanya PT. Geotermal yang ada di sana. Meski diketahui daerah di kaki Gunung Talang itu menyimpan energi panas bumi yang melimpah, namun masyarakat setempat tak mau lahannya diambil alih begitu saja. Karena di lahan-lahan itulah mereka menggantungkan hidup dari hasil tanaman yang dijualnya.

Share :

Baca Juga

Lamongan

Polemik Dampak Lingkungan PT. Jaya Brix, Pemdes Kemantren Lapor ke Camat hingga Kirim Surat ke Bupati
Kantor DPU Bina Marga Lamongan. Foto: Ammy.

Lamongan

DPU Bina Marga Lamongan Beberkan Alasan Perbaiki Jalan Rusak di Pucangro Dengan Pedel
Lokasi pertambangan yang makin meluas kearah timur, kegiatan terus dilakulam meski penambangan makin dekat dengan sumber air Mazoola. Foto: Ammy/Progresnews.id.

Lamongan

Melihat Ganasnya Aktivitas Penambangan di Zona Wisata Yang Rugikan Lamongan
Pejabat di Lingkungan Kementerian Perhubungan yang akan menandatangani Perjanjian Kinerja dan Fakta Intergritas Tahun 2021. Foto: Youtube Kemenhub.

Nasional

Kemenhub Tandatangani Perjanjian Kinerja dan Fakta Intregitas Tahun 2021
Penampakan lokasi pembakaran dan sisa abu rak sepatu di Ponpes Al-furqon, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, (Foto: Ist.)

Hukum dan Kebijakan

Kasus Pembakaran Ponpes Muhammadiyah di Lamongan Mulai Menemukan Titik Terang

Nasional

Presiden Jokowi Resmikan Ekspor Produk Senilai 23,75 Triliun ke Pasar Global
Ilustrasi Pam Swakarsa. Foto: istimewa

Sospol

KNPI Tuban Soroti Wacana Reaktivasi Pam Swakarsa yang Digagas Kapolri
Konferensi Pers Polda Jatim, Senin (1/2).

Warta

Polda Jatim Bongkar Prostitusi Online Libatkan Anak Di Bawah Umur