Home / Nasional / Warta

Rabu, 7 April 2021 - 06:00 WIB

Survei SMRC: Masyarakat Sering Takut Ikut Berorganisasi Meningkat

Reporter : Progresnews

Kaver hasil temuan survei SMRC.

Kaver hasil temuan survei SMRC.

Jakarta, Progresnews.id – Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkini menunjukkan bahwa sebanyak 20% persen masyarakat ‘selalu atau sering’ takut ikut berorganisasi. Angka itu menunjukkan peningkatan drastis yang sebelumnya hanya 9% di tahun 2009.

Temuan itu disampaikan Saidiman dalam rilis hasil survei secara daring bertajuk “Sikap Publik Nasional terhadap FPI dan HTI” pada Selasa, 6 April 2021, di Jakarta. Survei berskala nasional itu dilakukan pada 28 Februari – 5 Maret 2021 dengan melibatkan 1064 responden yang dipilih secara acak. Margin of error survei diperkirakan +/- 3,07%.

Di samping itu, survei tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas warga beragama Islam tidak percaya dengan anggapan bahwa pemerintah melakukan pelanggaran hukum dalam bentuk kriminalisasi ulama.

Baca Juga:  Ketua MUI Lamongan Sarankan Warga Tak Termakan Isu HAM Pasca Tragedi Meninggalnya Enam Laskar FPI
Temuan survei SMRC.

“Sekitar 60% warga Muslim tidak percaya pemerintah melakukan kriminalisasi ulama, sementara yang percaya 27%,” kata Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad.

Survei ini dilatarbelakangi ada peristiwa bentrok yang mengakibatkan 6 laskar FPI tewas. Serta pada akhir Desember 2020 pemerintah telah membubarkan FPI dan melarang kegiatannya. Tiga tahun sebelumnya (2017) pemerintah juga telah membubarkan HTI.

Sejalan dengan itu, survei juga menemukan bahwa 54% warga muslim tidak percaya bahwa keinginan umat Islam sekarang sering dibungkam oleh pemerintah/negara. Yang percaya 32% dan tidak menjawab 14%.

Di sisi lain, 55% warga Muslim menyatakan tidak setuju dengan gagasan agar pendakwah agama (ustadz, pendeta, pastor, biksu) harus mendapat izin dari pemerintah. Yang setuju 38%, dan ada 7% yang tidak menjawab.

Baca Juga:  Penyalagunaan Narkoba Masih Mendominasi kasus Kejahatan di Lamongan

Menurut Saidiman, meski mayoritas warga muslim tidak tidak percaya pemerintah melakukan kriminalisasi terhadap ulama, melakukan pembungkaman terhadap umat Islam, dan membatasi dakwah, temuan bahwa cukup banyak yang mempercayai anggapan itu perlu mendapat perhatian pemerintah.

Temuan survei SMRC.

“Nampaknya pemerintah memiliki pekerjaan rumah untuk meyakinkan umat Islam bahwa tuduhan kriminalisasi ulama dan pembungkaman terhadap umat Islam tidaklah benar,” ujar Saidiman.

Temuan lain dalam survei tersebut yang cukup mencengangkan adalah sebanyak 39 persen masyarakat takut bicara politik.

Share :

Baca Juga

Nasional

BMI Jatim Turut Menyambut Kedatangan AHY di Surabaya
Ilustrasi: Freepik.

Pendidikan

Mendikbud Putuskan Tetap Menjatah Kuota Gratis Pada Maret Mendatang

Nasional

Korea Selatan Bakal Investasi Besar-besaran di Indonesia
Bupati Kabupaten Fakfak Untung Tamsil saat menjadi pembicara pada acara puncak Festival Torang Pu Para Para dengan tema Memperkuat Kolaborasi Pasar untuk Pengembangan UMKM di Tanah Papua, Jumat (27/8).

Nasional

Bupati Jayapura dan Bupati Fakfak Dukung Pengembangan UMKM
Rahmawati Husein, Wakil Ketua MDMC dalam Talkshow live via Berita Baru Program BERCERITA: Ketahanan Perempuan Menghadapi Bencana Ekologis, Selasa (30/3)

Nasional

Bencana Ekologis di Indonesia, Masyarakat Butuh Pendidikan Politik
Kasi Bimas Kemenag Lamongan, M. Khoirul Anam saat memaparkan Ngabuburit di rumah saja. Foto: Ammy/Progresnews.id.

Lamongan

Puasa Kedua di Masa Pandemi, Kemenag Lamongan Serukan Ngabuburit di Rumah Saja
Gus Yaqut mengharap masyarakat tak mudah melabeli seseorang radikal, Minggu (14/2). Foto: instagram.com/@gusyaqut.

Nasional

Komentari Pelaporan Din Syamsuddin, Gus Yaqut: Jangan Gegabah Menilai Seseorang

Nasional

Temui Waka MPR Gus Jazil, Rabithah Alawiyah Sampaikan soal Keadilan Hukum