Home / Nasional / Warta

Jumat, 29 Oktober 2021 - 12:22 WIB

Prihatin Banyak Alih Fungsi Lahan, Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut Dorong Pertanian Agro Ekologi

Nisya Saadah Wargadipura dari Pesantren Ekologi Garut saat menjadi pemateri Webinar: Cipta Pertanian Berkelanjutan Bersama Pemuda, Festival Petani Milenial, Kamis (28/10).

Nisya Saadah Wargadipura dari Pesantren Ekologi Garut saat menjadi pemateri Webinar: Cipta Pertanian Berkelanjutan Bersama Pemuda, Festival Petani Milenial, Kamis (28/10).

Jakarta, Progresnews.id –  Keprihatinan terhadap alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian monokultur di daerah Pasundan, Jawa Barat mendesak Nisya Saadah Wargadipura bersama sang suami, Ibang Lukman Nurdin untuk mendirikan pesantren Ekologi.

“Dengan sistem Revolusi Hijau, berhubungan sekali dengan biaya produksi yang sangat tinggi. Lahan garapan harus selalu membeli benih, pupuk, tenaga kerjanya dan harus satu tanam-tanamannya,” kata Nisya Saadah Wargadipura, Kamis (28/10).

Hal itu disampaikan dalam Webinar  yang bertajuk “Cipta Pertanian Berkelanjutan Bersama Pemuda” sebagai acara puncak festival Petani Milenial: Ayo Kitorang Pulang Bangun Kampung.

Acara yang festival yang digelar secara maraton sejak 7 hingga 28 Oktober 2021 diselenggarakan oleh TAF dan PUPUK Surabaya dengan didukung mitra-mitranya serta Beritabaru.co sebagai media patner.

Baca Juga:  Sandiaga Salahuddin Uno Positif Covid-19 Tanpa Gejala

Nisa menilai, dengan konsep monokultur terbukti tidak mampu mensejahterakan masyarakat. Yang terjadi justru sebaliknya, menghadirkan kemiskinan baru karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga panen.

Menurut Nisa, penerapan sistem pertanian monokultur menyebabkan rendahnya kualitas produk karena konsep tersebut lebih mengedepankan penggunaan pestisida dalam mengelola pertanian.

“Sebenarnya pertanian yang dibutuhkan oleh Indonesia itu adalah pertanian yang memberikan kesehatan bagi diri kita sendiri, bagi keluarga kita, dan bagi lingkungan kita,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Nisa juga menyampaikan adanya pembukaan hutan untuk ladang pertanian berbasis revolusi hijau telah meningkatkan pemanasan global yang terjadi di hampir semua wilayah Indonesia.

Baca Juga:  DEMA PTKIN Se-Indonesia Komitmen Kuatkan Pendidikan Moderasi Beragama

“Dari pengalaman saya mengurus agro ekologi, pertanian yang berbasis pemulihan ekologi ini karena ada warming. Di Indonesia sendiri 39 derajat, itu panas sekali. Ini sangat perhatian, di dunia pertanian utamanya,” tutur Nisa.

Selain itu Nisa mengungkap, lahirnya pondok pesantren Ponpes Ekologi  juga didasari karena adanya kurikulum pendidikan nasional yang membawa pergi orang-orang pintar dari desanya, sehingga desa menjadi tertinggal dan miskin.

Nisya mengungkap, dengan pesantren alam Ath-Thaariq di Kampung Cimurugul, Desa Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, pihaknya terus mengampanyekan sistem pertanian agroekologi.

“Pertanian agroekologi, pertanian berbasis kearifan lokal, pertanian yang berbasis pada warisan ibu bapak kita itu mampu menyelamatkan keadaan kita semua,” tegasnya. (*)

Share :

Editor : Redaksi Progresnews

Baca Juga

Dicari Satirnya, Komika Abdur: Turun Ke Medan Perang Harus Paham Posisi

Nasional

Dicari Satirnya, Komika Abdur: Turun Ke Medan Perang Harus Paham Posisi
Kemendikbud Tanamkan Nilai Pancasila Saat PJJ

Nasional

Kemendikbud Tanamkan Nilai Pancasila Saat PJJ
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers Menteri terkait PPKM di Jakarta, Senin (20/12). Foto: Setpres.

Nasional

Menjelang Nataru, Pemerintah Umumkan Daftar Daerah PPKM Level 3 di Luar Jawa-Bali

Nasional

2024 Pemilu Serentak, PKB: Wajib Usung Capres Sendiri
Brigjen Pol. Rusdi Hartono. Foto: Humas Polri.

Nasional

Rekap Berita Hukum: Sidang Vonis Jaksa Pinangki sampai Meninggalnya Ustaz Maaher

Pendidikan

Semula Jadi Buah Bibir, Atis Mahasiswi Gresik Malah Berhasil Sabet Penghargaan Diklatpimnas II 2021
BPBD dan Warga Desa Kramat baksos membersihkan sungai, Minggu (31/1).

Warta

Normalkan Aliran Sungai, BPBD dan Warga Desa Kramat Baksos Bersihkan Sungai
Dirjen Pendidikan Islam M Ali Ramdhani. Foto: Ditjen Pendis.

Nasional

Aturan Baru Kemenag, Mempunyai Wawasan Keberagamaan Moderat Jadi Syarat Baru Guru Madrasah Swasta