Pewaris Kerajaan Samsung Dihantui Gugatan Hukum

Lee Jae Yong, Pewaris Tahta Kerajaan Samsung. Foto: Park Han-Na/Yonhap Media.
Lee Jae Yong, Pewaris Tahta Kerajaan Samsung. Foto: Park Han-Na/Yonhap Media.

Internasional, Progresnews.id Setelah pendiri raksasa elektronik Samsung, Lee Kun He meninggal dunia pada hari Minggu (25/10), Lee Jae Yong secara resmi menjadi nahkoda perusahaan asal Korea Selatan tersebut. Akan tetapi, saat ini Lee Jae Yong tengah menghadapi beberapa gugatan hukum dari pengadilan Korea Selatan.

Gugatan-gugatan terhadap Lee Jae Yong dapat mengancam stabilitas ‘Kerajaan Samsung’, bahkan sempat muncul isu perpecahan. Karena itu, ia mendapatkan sanksi yang menyatakan bahwa Samsung tidak boleh diwariskan dari garis anak turunnya.

“Saya berjanji tidak akan menyerahkan manajemen perusahaan kepada anak-anak saya,” ungkap pria berusia 52 tahun itu kepada publik, Senin (26/10).

Lantas, apa saja kasus yang kini sedang dihadapi Pemimpin Generasi Ketiga Samsung itu?

Skandal Korupsi yang Melibatkan Mantan Presiden Park Geun Hye

Pada hari Senin (19/10), Pengadilan Tinggi Seoul melanjutkan persidangan ulang Lee Jae Yong sehubungan dengan skandal korupsi yang melibatkan mantan Presiden Park Geun-hye. Lee Jae Yong didakwa atas kasus korupsi terkait dengan skandal suksesi politik. Namun, pada saat itu Lee Jae Yong melewatkan sidang praperadilan pada hari itu, karena kematian ayahnya pada hari Minggu (26/10).

Sidang kemudian ditangguhkan selama sembilan bulan ke depan setelah tim investigasi khusus meminta pergantian hakim dan akan mulai dilakukan pada Januari 2021 nanti. Hakim yang sekarang menangani kasus itu, diduga memiliki bias terhadap Lee Jae Yong. Namun hakim tersebut nanti tetap menjadi panel, karena Mahkamah Agung menolak permintaan tersebut.

Pakar hukum mengharapkan keputusan akhir terkait hal itu sebelum akhir tahun. Agar bisa berjalan lancar, operasi bisnis perusahaan Samsung di bawah Lee Jae Yong sangat bergantung pada keputusan pengadilan.

Selama persidangan pada hari Senin (19/10), pengadilan meminta kerja sama dari kedua belah pihak untuk memastikan proses yang cepat, termasuk rekomendasi dari komisaris khusus untuk meninjau komite pengawas kepatuhan hukum Samsung.

Lee Jae Yong Pernah Dipenjara Sebelumnya

Lee Jae Yong yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Samsung Electronics dibebaskan dari penjara pada Februari 2018 setelah Pengadilan Tinggi Seoul mengurangi masa hukumannya dari lima tahun menjadi 2,5 tahun dan menangguhkan hukumannya.

Dia dihukum karena membayar 8,6 miliar won (US$ 7 juta) sebagai suap kepada Presiden Park Geun Hye dan beberapa orang politik kepercayaan lamanya saat mencari dukungan pemerintah atas upayanya untuk memperkuat kendalinya atas kerajaan bisnis Samsung.

Lee Jae Yong Pernah Terlibat Kasus Mangkir Pajak dan Menaikkan Saham Secara Ilegal

Variabel tak terduga terbesar di era baru Samsung adalah percobaan yang dihadapi Samsung Scion sehubungan dengan merger perusahaan pada Tahun 2015, antara Samsung C&T dan Cheil Industries. Tuduhan terhadap Lee Jae Yong antara lain pelanggaran bea masuk dan pelanggaran hukum pasar modal.

Jaksa menduga bahwa Lee Jae yong dan salah seorang mantan eksekutif Samsung menggunakan cara ilegal untuk membantu keluarga konglomerat tersebut mengamankan kendali maksimum dengan biaya minimum dengan cara memanipulasi rasio merger serta mangkir dari pajak.

Tuduhan lain yang dihadapi Lee Jae Yong adalah keterlibatannya dalam dugaan penipuan akuntansi oleh anak perusahaan Samsung, Samsung Biologics, yang diduga telah meningkatkan valuasinya sekitar 4,5 triliun won pada tahun 2015 untuk meningkatkan nilai Cheil Industries menjelang merger yang kontroversial.

Menurut hukum di Korea Selatan, sebuah organisasi atau perusahaan nonpemerintah, rasio merger yang sesuai adalah 1 banding 1. Sedangkan Lee Jae Yong menikkan nilai saham hingga 1:8 untuk mendukung Samsung C&T.

“Lee Jae Yong memperoleh keuntungan ilegal sebesar 2 triliun hingga 3,6 triliun won,” Park Han Na memberikan keterangan secara daring terkait dengan kasus yang lagi menggemparkan dunia pasca kematian pendiri Samsung Lee Keun Hee.

Hal tersebut membuat negara mengalami kerugian karena peningkatan nilai saham tersebut. Layanan Pensiun Nasional Korea, pemegang saham terbesar pra-merger Samsung C&T, telah kehilangan 330 miliar won menjadi 600 miliar won karena ulah Lee Jae Yong.

Ketika jaksa mendakwa Lee Jae yong tanpa penahanan fisik pada 1 September 2015, banyak saksi mengatakan Samsung telah secara sistematis merencanakan penyimpangan sejak 2012 dengan menggunakan nama kode “Project G” Untuk membebaskan pangeran mereka dari jeratan hukum.

Sementara itu, selama sidang praperadilan pada 22 Oktober 2020 kemarin, pengacara yang mewakili Samsung mengatakan dokumen Proyek G tidak mengandung sesuatu yang ilegal. Mereka menegaskan bahwa merger adalah keputusan yang diambil untuk tujuan bisnis dan semua prosedur dilakukan secara sah. Terkait dengan kerugian negara sebesar 330 miliar won, hal itu merupakan mutlak kesalahan negara dan bukan kesalahan perusahaan. Hal itu karena menurut mereka fluktuasi merger saham perusahaan sudah sesuai dan tidak ada ilegalitas apapun.

“Saya bisa terima soal kesalahan saya mangkir pajak dan mencari dukungan dari kalangan politisi. Tetapi soal kerugian negara karena saham, saya tidak bisa terima. Semua saham akan naik dan turun pada masanya. Itu merupakan hal yang biasa. Saya tidak mengerti mengapa pemerintah menyalahkan saya dalam hal ini,” Keluh Lee Jae Yong, berdasarkan rekamana data milik wartawan Yonhap.

Pertarungan hukum yang panjang diperkirakan akan terjadi pada bulan November mendatang, mengingat jaksa mengajukan sekitar 190.000 halaman dokumen investigasi dalam 368 volume sementara Samsung menyangkal semua tuduhan tersebut.

Sidang praperadilan kedua dijadwalkan pada 14 Januari 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.