Home / Nasional / Warta

Kamis, 21 Oktober 2021 - 19:50 WIB

Peran Aktif Santri Dibutuhkan Untuk Antisipasi Gerakan Intoleran

Sumanto Al-Qurtubi Dosen King Fahd University of Petroleum dan Minerals Dhahran, Saudi Arabia Webinar Internasioanal Peringatan Hari Santri 2021 RMI PBNU Seri ke-2, dengan tajuk ‘Santri Membangun Negeri: Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya dan Revolusi Teknologi’, Kamis (21/10).

Sumanto Al-Qurtubi Dosen King Fahd University of Petroleum dan Minerals Dhahran, Saudi Arabia Webinar Internasioanal Peringatan Hari Santri 2021 RMI PBNU Seri ke-2, dengan tajuk ‘Santri Membangun Negeri: Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya dan Revolusi Teknologi’, Kamis (21/10).

Jakarta, Progresnews.id – Fenomena munculnya kelompok intoleransi di tanah air cukup mengkhawatirkan untuk masa depan agama, kerukunan serta keutuhan bangsa, dan negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akibatnya, para santri, sebagai penerus masa depan bangsa Indonesia, memilki tanggung jawab besar untuk mengantisipasi fenomena membahayakan tersebut dengan serius.

Sumanto Al-Qurtuby, Dosen King Fahd University of Petroleum dan Minerals Dhahran, Saudi Arabia menegaskan bahwa kelompok intoleran tersebut apabila tidak diantisipasi dapat membahayakan kelompok-kelompok moderat di Indonesia.

 “Kelompok-kelompok ini (intoleran) ke depan jika tidak diantisipasi dengan baik mereka bukan hanya membahayakan nonmuslim atau kelompok minoritas agama saja, tetapi juga kelompok-kelompok Islam moderat seperti santri dan NU ke depannya. Itu sudah sangat pasti sekali dan itu sudah terjadi diberbagai macam negara,” kata Sumanto.

Baca Juga:  Jelang Presidensi G20 2022, Kominfo Prioritaskan Kesiapan TIK

Hal itu ia ungkap saat menjadi pembicara dalam Webinar Internasioanal Peringatan Hari Santri 2021 RMI PBNU Seri ke-2, dengan tajuk ‘Santri Membangun Negeri: Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya dan Revolusi Teknologi’, Kamis (21/10).

Selain mengancam kebhinnekaan, Sumanto juga mengungkap kelompok intoleran itu ancaman bagi tradisi dan kebudayaan, eksistensi kebangsaan atau nasionalisme, fondasi kenegaraan, juga ancaman bagi kemajuan dan kemodernan negara.

“Kenapa kita para santri perlu dan harus menyikapi ini dengan serius karena kelompok-kelompok ini memang menjadi ancaman yang serius bukan hanya bagi kita sebagai santri, NU dan pesantren tetapi juga ancaman bagi bangsa dan negara kebhinnekaan Indonesia di kemudian hari,” ujar Direktur Nusantara Institute itu.

Baca Juga:  Kontribusi Petani Millenial Dibutuhkan Pertanian Indonesia

“Kita sebagai santri turut berperan aktif, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, kita harus betul-betul berperan aktif sesuai dengan prosesi, kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Santri jangan menjadi silent majority harus menjadi noise majority,” tukas Sumanto. Acara Webbinar seri kedua ini dihadiri oleh Mendikbud-Ristek Nadiem Anwar Makarim, Ketua Ketua RMI- PBNU Abdul Ghofar Rozin dan lima (5) intelektual Nahdlatual Ulama dari pelbagai bidang dan konsentrasi masing-masing sebagai pembicara.

Share :

Editor : Redaksi Progresnews

Baca Juga

Kondisi jalan rusak di jalan nasional ruas Deket-Babat. Foto: Ammy/Progresnews.id.

Lamongan

Sering Terjadi Kecelakaan, DPU Bina Marga Lamongan Akui Tak Berwenang Perbaiki Jalan Nasional
Suasana evakuasi korban kecelakaan lalu lintas di pertigaan Deket. (Foto: Ammy)

Lamongan

Tewaskan Warga Lamongan, Sopir Truk Trailer Jalani Tes Urine dan Uji Kalayakan Kendaraan

Gresik

Santunan Anak Yatim Warnai Upacara Virtual HUT TNI Ke-76

Nasional

Peringatan Hari Ibu, Begini Pesan Bijak Gus Jazil
Gus Jazil Dikukuhkan Jadi Anggota Kehormatan Pagar Nusa Lamongan

Nasional

Gus Jazil Dikukuhkan Jadi Anggota Kehormatan Pagar Nusa Lamongan
Kemenkeu Tempatkan 1.014 Mahasiswa Lulusan PKN STAN di Kementrian, Lembaga dan Pemda

Nasional

Kemenkeu Tempatkan 1.014 Mahasiswa Lulusan PKN STAN di Kementrian, Lembaga dan Pemda
Tersangka penipuan yang mengaku sakti saat digelandang petugas, Foto : Progresnews.id/Ammy.

Lamongan

Pandai Bersilat Lidah, Kakek di Lamongan Lancarkan Aksi Penipuan Hingga Raup Ratusan Juta
Mia Khalifa kritisi kebijakan reformasi agraria di India yang dinilai merugikan petani India. Foto: hero-magazine.com.

Internasional

Sempat Dikecam, Mia Khalifa Berikan Dukungan Bagi Petani India