Home / Lamongan / Warta

Senin, 4 Januari 2021 - 17:45 WIB

Pengusaha Tempe di Lamongan Nekat Jalankan Produksi Meski Harga Kedelai Kian Meroket

Reporter : Adyad Ammy Iffansah

Proses produksi tempe, terlihat pengusaha tempe di Lamongan ini jalankan usaha meski harga bahan baku melonjak naik. Foto : Ammy

Proses produksi tempe, terlihat pengusaha tempe di Lamongan ini jalankan usaha meski harga bahan baku melonjak naik. Foto : Ammy

Lamongan, Progresnews.id — Meski harga kedelai dipasaran melambung tinggi, pengusaha tempe di Lamongan putar otak jalankan usahanya.

Pengusaha tempe yang berlokasi di Desa Sukomulyo, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Abdul Rohim, mengakui kondisi seperti ini ia rasakan sejak Februari awal-awal Covid-19 merebak, kedelai mulai naik turun harganya, hingga libur Natal Tahun Baru (Nataru) harga kedelai melonjak tinggi.

“Harga normal kedelai perkilo berkisar Rp. 7.000 saat ini naik hingga Rp. 9.100 jelas hal itu mepengaruhi produksi kami,” tuturnya. Pada Progresnews.id, Senin (04/12) Pagi.

Baca Juga:  Baru Satu Bulan Dibangun, Atap Galvalum Bantuan Pemprov di PAUD Aisyiyah Weru Ambruk

Meski begitu, permintaan tempe di pasaran tidak menurun, lantaran tempe menjadi makanan pokok yang dibutuhkan warga setiap harinya.

“Permintaan pasar meningkat dan kami tak bisa menutup usaha ini, ikuti permainan harga pasar saja sambil menunggu harga kedelai kembali stabil,” pungkasnya

Untuk mensiasati agar tetap berjalan, kata Rohim, pihaknya tidak bisa menaikan harga tempe seperti harga bahan baku kedelai, untuk memenuhi permintaan pasar ia memasok 2 kwintal kedelai perharinya.

Baca Juga:  Semarak Bulan Bung Karno, GMNI Lamongan Adakan Kegiatan Monumental, Libatkan Pelajar dan Warga
Proses penjamuran, tempe dengan ukuran normal sebelum di potong dan dipasarkan.

“Pasrah saja dengan keadaan ini, kami tidak bisa apa apa, untuk bertahan terpaksa tempe harus dipotong dengan ukuran yang lebih kecil, dari ukuran bisanya dipotong 1cm,” katanya.

Imbas dari kenaikan kedelai ini menjadikan pengusaha tempe di berbagai daerah meradang hingga nekat menutup sementara usaha tempenya.

“Di daerah lain sudah tidak memproduksi tempe, sepertinya hanya di Lamongan saja yang masih berjalan untuk produksi tempe ini,” tambahnya, Seraya menyebut beberapa daerah yang sudah tidak memproduksi tempe.

Editor : Kholis

Share :

Baca Juga

Leroy Samy Uguy memberikan tanggapan atas testimoni para perempuan pemimpin dalam webinar "Memperkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Pengelolaan SDA dan Ketahanan Ekologis di Indonesia", Kamis (25/3).

Nasional

Keluhkan Kurangnya Perhatian Pemerintah, Leroy Samy Sarankan Mama-mama Libatkan Pendamping Desa
Kuasa hukum HRS, Aziz Yanuar melayangkan surat ke Kejaksaan untuk meminta persidangan keenam kliennya digabung dalam satu persidangan, Senin (15/2). Foto: sindonews.com.

Nasional

Surati Jaksa, Kuasa Hukum HRS Minta Berkas Perkara Digabung

Gresik

Di Makam Sunan Giri, Wabup Gandeng LAZIZNU Gresik Bagikan Paket Bantuan
Komisi IV DPRD Tuban saat mengunjungi Dispendik Tuban. Foto: ist.

Tuban

Tahun 2021, Honorarium PTT di Tuban Mengalami Kenaikan
IPNU IPPNU Desa Jono melakukan Bersih-bersih mushola, Minggu (11/4).

Bojonegoro

Sambut Ramadan, PR IPNU IPPNU Jono Adakan Kegiatan Bersih-bersih Musala
Ketua DPRD Abdul Qodir saat Jumpa Pers di Gedung DPRD

Gresik

Dukung Visi-Misi, DPRD Gresik Minta Gus Yani-Bu Min Segera Usung RPMJD
Kasie Ekonomi Bappeda Keerom Triyono saat menjadi pemateri dalam Seri Diskusi Pengelolaan Produk Inovatif Pangan Papua: Festival Torang Pu Para Para, Senin (16/8).

Nasional

Kolaborasi Budidaya Sereh Wangi, Pemda Keerom Komitmen Sediakan Rumah Industri
Video conference Ketua MUI, KH. Cholil Nafis dengan Hersubeno Arief membahas buzzer yang meresahkan masyarakat. Sumber: kanal YouTube Hersubeno Point.

Nasional

Buzzer Biang Keresahan, MUI: Buzzer Pemakan Bangkai