Home / Kolase / Sejarah

Sabtu, 30 Januari 2021 - 13:03 WIB

Pasar Legi Kaliwot: Filosofi, Kejayaan, Perpindahan dan Potensinya

Reporter : Ahmad Maghfur

Sisa bekas pagar bangunan Pasar Legi Kaliwot. Foto diambil pada hari Minggu (24/1). Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Sisa bekas pagar bangunan Pasar Legi Kaliwot. Foto diambil pada hari Minggu (24/1). Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Gresik, Progresnews.id – Diceritakan dalam buku Sedjrah Bungah dan Bergeloranja Pesantren Sampurnan (1962), bahwa Pasar Legi Kaliwot atau yang di sebelah utara Bengawan Solo merupakan pasar yang dibuat oleh Kiai Gede Bungah. Selain sebagai penyebar agama Islam, Kiai Gede Bungah juga merupakan seorang pedagang kelapa dari Bugis, Makassar. Sementara itu, di sebelah selatan Bengawan Solo, digunakan sebagai bongkar muat dagangan kelapanya.

Daerah utara Bengawan Solo itu kini dikenal dengan Dusun Kaliwot, dan di sebelah selatan dikenal dengan Ngampel.

Jika memang Pasar Legi yang diciptakan oleh Kiai Gede Bungah itu adalah Pasar Legi Kaliwot, maka bisa dikatakan Pasar Legi Kaliwot telah berumur hampir 5 abad, terhitung dari datangnya Kiai Gede Bungah pada tahun 1442 (disebutkan dalam buku Sedjarah Bungah) hingga perkiraan pindah ke utara sekitar tahun 1971-2 (menurut pengakuan beberapa orang yang akan dijelaskan di bawah ini).

Filosofi Pasar Legi

Namun, dalam buku karangan Moh. Zainal S dan yang dikoreksi oleh KH. Sholih Musthofa itu juga disebutkan bahwa Pasar Legi yang diciptakan oleh Kiai Gede Bungah itu ditetapkan ‘hanya’ pada hari Jumat Legi.

~ Jadi, Pasar Legi itu diciptakan oleh Kiai Agung [Gede] Bungah. Dan menciptakan menjadi pasar legi itu, ditetapkan hari Jumat Legi, perlunya disesuaikan dengan tugasnja (menyebar agama Islam).

Dalam buku itu kemudian disebutkan Pasar Legi hari Jumat yang diciptakan oleh Kiai Gede Bungah itu mempunyai filosofi keislaman:

Legi=5, jadi sama dengan rukun Islam sebanyak 5. Jumat=6, jadi sama dengan rukun iman yang ada 6. Dan juga Jumat Legi, berarti 5+6=11. 11=9+2, yang berarti 9 wali dan 2 Syahadat.

Hasil Scan Buku Sedjarah Bungah dan Bergeloranja Pesantren Sampurnan (1962) karangan Moh. Zainal S dan dikoreksi oleh KH. Sholeh Musthafa, hal. 5.

Akan tetapi, menurut pengakuan saksi hidup warga Bungah yang sempat menangi Pasar Legi Kaliwot, pasar itu dibuka tidak hanya setiap Jumat Legi, melainkan setiap pasaran Legi dan tidak selalu hari Jumat.

Sehingga, ada dua kemungkinan awal mula Pasar Legi: Pertama, Pasar Legi Bungah di Kaliwot dulu merupakan pasar ciptaan Kiai Gede Bungah dengan filosofi yang tercantum di atas lalu mengalami perubahan sistem pembukaan, yang awalnya dibuka setiap Jumat Legi, diganti setiap pasaran Legi. Dan kedua, Pasar Legi Bungah di Kaliwot dulu benar-benar baru dan bukan diciptakan oleh Kiai Gede Bungah. Wallahua’lam.~

Masa Keemasan Pasar Legi Kaliwot

Bisa dikatakan bahwa Pasar Legi Kaliwot di awal tahun 1900-an sudah berdiri kokoh dan ramai. Hal itu menurut kesaksian Umamah yang lahir sekitar 1940-an, bahwa sejak ia kecil, Pasar Legi Bungah sudah ada.

“Pasar Kaliwot itu sejak aku kecil sudah ada dan ramai. Lalu aku juga ikut berjualan di sana. Mbrancang. Jualan di Pasar Legi [Kaliwot, red] setiap [pasaran] Legi.  Tidak selalu hari Jumat. Jualan bumbu-bumbu. Kalau tidak Legi, jualan di depan rumah,” terang Umamah dalam bahasa Jawa saat ditemui di kediamannya, Selasa (12/1).

Beberapa saksi hidup keberadaan Pasar Legi Kaliwot mengatakan pasar itu sangat ramai, bahkan ada yang bilang lebih ramai daripada Pasar Legi Bungah sekarang yang ada di utara.

Pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin, KH Iklil menyebutkan bahwa Pasar Legi Kaliwot dulu lebih ramai lantaran transportasi utamanya via Bengawan.

“Pasar Legi Kaliwot itu dulu ramai sekali. Ya karena dulu kan transportasi itu melalui Bengawan. Aku juga tahu, aku pernah juga naik But sampai Dukun, banyak yang ke Pasar Legi menggunakan But,” kenang KH Iklil dalam bahasa Jawa saat ditemui di kediamannya, Rabu (20/1).

Baca Juga:  Lestarikan Budaya, Desa Petiyintunggal Gelar Sedekah Bumi dan Tasyakuran
Sisa bekas bangunan Pasar Legi Kaliwot. Foto diambil pada hari Minggu (24/1). Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Hal senada juga disampaikan oleh Pak Sholeh (Nongkokerep), bahwa Pasar Legi Kaliwot lebih ramai dari Pasar Legi Bungah lantaran mode transportasi utamanya adalah But.

“Asalnya Pasar Legi itu di Kaliwot sana, rumah lama Pak Nawadhir. Dulu sewaktu kecil, saya di situ. Pasarnya besar. Dan justru lebih ramai, kan dekat dengan Ngampel. Dulu kan transportasi banyak via air. Sampai ada istilah But. But itu perahu yang pakai mesin,” jelas Pak Sholeh, Senin (18/1).

Lebih lanjut, Pak Sholeh juga mengatakan bahwa bangunan Pasar Kaliwot semasa ia kecil, sudah modern.

“Bangunannya sudah modern. sudah bentuk kotak-kotak, seperti Pasar Legi [sekarang] itu. Pasarnya menghadap utara. Ramai sekali di sana. Dulu juga ada jasa-jasa di sana, jahit-jahit, dan sebagainya,” ujar Pak Sholeh.

Tak hanya itu, Pak Sholeh juga menceritakan bahwa Pasar Kaliwot juga pernah menjadi media kampanye politik.

“Aku masih ingat zaman ada kampanye. Waktu itu Golkar, ada pamflet-pamflet politik di Pasar Kaliwot. Pamflet itu disebar menggunakan pesawat,” kenang Pak Sholeh.

Keterangan yang sama juga dituturkan oleh Umamah. Sebagai pelaku sejarah dan pernah berjualan di Pasar Legi Kaliwot, Umamah menjelaskan bahwa bangunannya kala itu (1940-an) sudah sangat besar.

“Bangunan Pasar Legi Kaliwot dulu bangunan besar. Ada bangunan dengan ukuran sekitaran 25 meter persegi, mider. Lalu di tengah pener itu ada semacam garis (tembok) ngalor-ngidul. Ada juga penjual yang di luar [pasar], tidak ada teropnya. Tapi biasanya mereka bawa terop sendiri. Ya, jualannya bermacam-macam, bumbu-bumbu, jajanan pasar, kain, dsb. Banyak. Lalu di luar pagar pasar, di sebelah ‘pelawangan’ itu ada yang jualan ‘welit’, dan sebagainya. Kalau menurutku, lebih ramai sana daripada di pasar sekarang. Ya karena luas dan tidak di jalan raya. Yang datang ratusan orang. Besar. Rame. Masio sek lemah, rejo nak kono,” jelas Umamah.

Bagaimana Jika Banjir?

Pada faktanya, banjir di Bungah sudah ada sejak tahun 1900-an awal, atau setidaknya sewaktu Pasar Kaliwot digelar, pernah kebanjiran. Lantas bagaimana jika kebanjiran?

Umamah menjelaskan bahwa ketika banjir, Pasar Legi Kaliwot pindah di depan Masjid Jami’ Kiai Gede Bungah.

“Ya banjir sudah ada. Kalau kebanjiran, ya tanahnya jemek kabeh, karena pasar waktu itu masih lemah. Jadi, kalau banjir, ya ditunggu sampai garinge lemah. Pasar Legi kemudian pindah di depan masjid. Tapi ya tetep ramai. Dari masjid itu sampai depan rumahnya Pak Jumain,” terang Umamah.

Hal serupa juga diceritakan oleh KH Iklil, bahwa kalau banjir, maka pasar pindah di depan masjid.

Pasar Legi Pindah

Beberapa saksi hidup yang pernah menangi Pasar Legi Kaliwot menyebutkan bahwa perpindahan pasar ke utara itu ada beberapa versi. Namun yang paling pendapat yang paling kuat disebutkan bahwa perpindahan itu berlangsung di tahun 1971 atau 1972.

“Pindah di utara itu, kalau tidak salah sewaktu aku MI [Madrasah Ibtidaiyah], sekitar tahun 1971-an. Setelah Gestapo [G-30-S PKI tahun 1965]. Sekitar 1971 atau 1972-an. Bukan 1962, perasaan tidak. 1962 itu kelahiranku. Aku kecil masih sering main di pasar legi [Kaliwot],” jelas Pak Sholeh.

Senada dengan Pak Sholeh, KH Iklil juga menceritakan bahwa perpindahan pasar itu sekitar tahun 1970-an.

“Pindah ke utara itu sekitar tahun 1971-an. Tukang yang membangun Pasar Legi di utara itu Kak Dul, Bapaknya Rosyid. Aku pernah main ke lapangan [Nggembus] dulu, terus aku ketemu Kak Dul. Aku tanya ke Kak Dul, ‘Lapo Kak Dul?’. Lalu Kak Dul jawab ‘Gae Pasar’,” kenang KH Iklil.

Baca Juga:  Hari Pers Nasional dan Hari Prabangsa Nasional

Selain itu, KH Iklil juga menyebutkan, perpindahan itu berlangsung pada zaman pemerintahan Desa Bungah dipimpin oleh Pak Ridlwan (Nongkokerep).

“Yang pasti, pindah ke utara itu zaman Pak Ridlwan Nongkokerep, Bapaknya Topa. Itu yang mindah,” terang KH Iklil.

Sementara itu, untuk alasan perpindahan Pasar Legi pun beragam versi: ada yang menyebutkan bahwa Bangunan Pasar Kaliwot itu dihancurkan untuk digarap sawahnya, ada yang menyebutkan karena banjir dan sudah tidak layak, dan alasan-alasan lainnya. Wallahua’lam~

“Dulu itu ada bangunannya. Dihancurkan wong-wong. Gak tahu, digarap sawahe, sering banjir, atau yang lain. Tapi memang banyak sawahnya. Jadi bangunan pasar, lalu sebelah-sebelahnya sawah-sawah. Sawahnya digarap uwong. Selang-seling gitu. Ada jaraknya. Dulu ada tendanya, ada bangunannya. Ya seperti Pasar Legi sekarang, kayu-kayu dan kalau banjir pindah depan masjid,” terang KH Iklil.

Sementara itu, Kepala Desa Bungah M. Nasihin juga menyebutkan bahwa kemungkinan perpindahan pasar itu berbarengan dengan perpindahan Balai Desa.

“Kurang tahu. Tapi mungkin pindahnya balai desa itu bebebarengan dengan pasar, zaman Pak Ridlwan, yang ada di Jl. Tanjung, sebelah rumah Pak Anas [Alm]. Tapi sisa bangunan balai desa itu sudah hilang, tidak ada,” kata Nasihin, Senin (18/1).

Disebutkan juga oleh Nasihin bahwa Pak Ridlwan dulu memimpin Desa Bungah sejak sekitaran tahun 1858 sampai tahun 1991, yang kemudian diganti oleh Pak Hariyadi (Bungah).

Melihat Potensi

Semenjak bangunan Pasar Kaliwot hancur dan pindah ke utara, tidak banyak puing-puing yang tersisa. Hanya bekas ‘pelawangan’ dan pagar yang memanjang dengan perkiraan sekitar 100 meteran ke selatan.

Jika dibandingkan dengan Pasar Legi sekarang di utara, maka ada benarnya yang dikatakan oleh para saksi hidup tersebut, bahwa Pasar Legi Kaliwot lebih besar atau lebih luas dibandingkan dengan Pasar Legi utara.

Panjang bekas bangunan Pasar Legi Kaliwot jika dilihat melalui satelit. Foto diambil dari Google Earth, Jumat (29/1).

Bahkan jika ditarik terus ke selatan, dan mengikuti cerita para saksi yang mengatakan jalur utamanya melalui Bengawan, maka ada kemungkinan luas area lahan Pasar Kaliwot dulu mencapai 3-4 hektar, dengan asumsi para pedagang dan penjual yang datang dari Ngampel, Dukun, dan sekitarnya melalui jalur Bengawan dan melabuhkan perahunya di pinggiran Bengawan. Kini area bekas Pasar Legi Kaliwot itu menjadi lahan pertanian yang luas.

Perkiraan luas Pasar Legi Bungah, sekitar 2.700 meter kubik. Foto diambil dari Google Earth, Jumat (29/1).
Perkiraan luas Pasar Legi Kaliwot sekitar 4.300 meter kubik jika ditarik dari bekas pelawangan pasar. Foto diambil dari Google Earth, Jumat (29/1).

Menanggapi sejarah, masa keemasan, dan potensi wisata Pasar Legi Kaliwot, Nasihin berencana untuk memanfaatkan kembali memanfaat bekas Pasar Legi Kaliwot sebagai pusat perekonomian.

“Rencana saya, itu akan saya kembalikan lagi. Saya akan bangun pusat untuk keseimbangan perekonomian Bungah Barat dan Bungah Timur. Sekarang kan [pusat perekonomian, red] ada di Bungah Timur, mau saya seimbangkan. Rencanya, bekas Pasar Legi itu, saya bangun pusat perekonomian. Kemungkinan bisa kembali seperti dulu,” terang Nasihin.

Nasihin juga menyebutkan pusat perekonomian itu nanti akan dikelola oleh BUMDes.

“Aku punya rencana mau membuat master plan bekas Pasar Legi [Kaliwot, red], mau diapakan. Dari situ rencana hasil konsep dari teman-teman itu ada kayak water loo, pusat permainan anak, dan pusat PKL. Jadi di situ kita buatkan stand-stand dan pusat perbelanjaan yang nanti dikelola BUMDes,” jelas Nasihin.

Share :

Baca Juga

Sisa-sisa pohon kelapa di sekitar bekas Pasar Legi Kaliwot Bungah. Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Gresik

Sejarah Desa Bungah yang Bergelimang Pohon Kelapa
Bapak Pers Nasional Indonesia Tirto Adhie Soerjo. Sumber Foto: Wikipedia.

Kolase

9 Februari Bukan Hari Pers Nasional, Tapi Hari Lahir PWI
Lestarikan Budaya, Desa Petiyintunggal Gelar Sedekah Bumi dan Tasyakuran

Daerah

Lestarikan Budaya, Desa Petiyintunggal Gelar Sedekah Bumi dan Tasyakuran

Daerah

Junjung Keberagaman Para Pahlawan, Universitas Qomaruddin, Polres Gresik, Formagam dan Gresmall Adakan Talkshow Bertajuk ‘Diverse Heroes in Unity’
Gapura masuk Desa Bungah. Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Jendela

Sekelumit Cerita Para Kepala Desa Bungah
Mengenal Ponpes Al-Karimi, Salah Satu Pusat Pendidikan Tertua di Gresik

Sejarah

Mengenal Ponpes Al-Karimi, Salah Satu Pusat Pendidikan Tertua di Gresik
Ilustrasi: Kumparan.com.

Kolase

Hari Pers Nasional dan Hari Prabangsa Nasional
Lobi Museum Sunan Giri Gresik dilengkapi handsanitizer untuk pengunjung selama pandemi. Foto: Nufus/Progresnews.id.

Gresik

Museum Sunan Giri Gresik Semakin Sepi di Tengah Pandemi