Home / Editorial

Rabu, 10 Februari 2021 - 21:43 WIB

Media Massa Dan Media Sosial, Beda Tupoksi Tapi Bukan Versus

Reporter : Alfa Kamila - Telah dibaca 128 kali

Ilustrasi: Freepik.

Ilustrasi: Freepik.

Editorial – Berbicara mengenai Media Massa dan Media Sosial, ucapan Ketua Dewan Pers M. Nuh pada hari Minggu (7/2) perlu direnungkan kembali.

“Saat ini, teknologi menjadi pusat perubahan yang signifikan. Maka, mau tidak mau, insan pers harus melakukan transformasi digital, meskipun tidak semua teknologi dibutuhkan oleh semua sektor. Media itu kendaraan, esensinya adalah muatan. Nah sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat itu kendaraan atau muatannya? Yang dibutuhkan adalah muatan, kendaraan bisa berubah,” ucap Ketua Dewan Pers dalam Webinar Jurnalisme Berkualitas yang bertajuk “Menguatkan Keberlangsungan Profesi Wartawan dan Penerbitan Pers Guna Menyehatkan Demokrasi di Tengah Gempuran Disrupsi Digital” pada Minggu, (7/2).

Kemajuan perkembangan digital di era ini memang sangat pesat, semua orang dituntut untuk melalukan pembaruan digital pada circle-nya. Tentu hal ini juga dirasakan dampaknya dalam industri media, media massa ya media sosial, sama-sama media, yang fungsinya adalah perantara. Bedanya hanya tentang apa dan bagaimana perantara itu disampaikan dan diterima oleh publik.

Mohammad Nuh mengatakan dalam sambutannya di acara Konvensi Nasional Media Masa (8/2), bahwa sebenarnya teknologi digital sudah ada sejak 20 tahun lalu. Tapi ya, beginilah Indonesia. Kalau saja bukan karena adanya Pandemi Covid-19 maka mungkin kita tidak akan menggunakan metode digital sebanter sekarang.

Tapi bukan berarti datangnya Virus Corona ini lantas dianggap sebagai sebuah keuntungan dalam keseluruhan dunia digital, tidak. Ini tetap akan dianggap sebagai bencana pandemi yang menyedihkan dan merugikan, tapi juga perlu dipercayai bahwa Tuhan menciptakan kurang dan lebih dalam setiap hal, pengaplikasian digital inilah kelebihannya.

Baca Juga:  Kominfo Bantah Hoaks Terkait Kerawanan Aplikasi PeduliLindung

Berbicara soal media, tentu saja ini bukan hal yang baru. Saat ini bisa dipastikan hampir semua orang setidaknya memiliki minimal satu akun media sosial, tapi tidak sedikit juga soal media masa. Untuk diketahui bahwa meskipun sama-sama merujuk pada kata yang sama yaitu Media, dua hal ini tentu punya tupoksi yang berbeda.

Menurut KBBI, Media Massa adalah sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Seperti surat kabar, media pers, media televisi dan lainnya. Sedangkan Media Sosial adalah laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial. Seperti facebook, twitter, instagram dan lain-lain. Terlihat bedanya ‘kan?

Saat ini, sekarang ini, mungkin sebagian orang yang berada di circle industri media sedang merasakan betul bagaimana perkembangan media sosial berlari sangat cepat. Masyarakat mulai jauh meninggalkan budaya baca koran, dan lebih memilih cara simple dengan baca di internet. Sejatinya hal ini bukan masalah, yang jadi bibit masalah adalah berkembang dan beredarnya banyak berita hoaks.

Dan di sinilah episentrum pusingnya para pemangku industri media massa. Insan pers saat ini dihadapkan pada tantangan yang berat, sudah harus berlari menyeimbangkan diri dengan pesatnya digitalisasi dan menyaring berita hoax, sekarang ditambah lagi dengan datangnya Pandemi Covid-19.

Dewan Pers dalam Rapat Dengar Komisi I DPR RI (1/2), mengatakan bahwa platform digital telah merambah bisnis media, pasar iklan, dan menguasai distribusi konten tanpa regulasi yang tegas dan melindungi media nasional. Katakanlah seperti Google dan Facebook, mereka telah mendominasi 75-80% dari total belanja iklan nasional, dan dari itu media hanya mendapat sisanya. Readership dan oplah media terus menurun.

Baca Juga:  Konvensi Nasional Media Massa, Menkominfo Beri Dorongan Kepada Insan Pers

Dalam paparan Menkominfo pada Konvensi Nasional Media Massa pada Minggu (8/2) lalu, ia menyebutkan bahwa angka pembaca media online mencapai 6 juta, sedangkan pembaca media cetak hanya 4,5 juta, dengan preferensi cara mendapatkan informasi dari Televisi 96%, Papan Iklan/Billboard 52%, Internet 43%, Radio 37% dan Media Cetak 8%.

Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Katadata dan Kementerian Kominfo pada 2020 dengan pertanyaan “Sumber media yang paling dipercayai?”, mengasilkan data bahwa dari Televisi 49,50%, Media Sosial 20,30%, Situs Web Pemerintah 15,30%, Berita Online 7,00%, Media Cetak 4,00%, dan lainnya 3,90%.

Dari data tersebut memang terlihat jelas bahwa masyarakat sudah sangat akrab dengan media sosial. Maka sangat benar apa yang dikatakan oleh Ketua Dewan Pers, bahwa mau tidak mau media harus menyeimbangkan langkahnya dengan laju perkembangan teknologi. Selain itu memberitakan fakta kepada masyarakat juga untuk mengawal mereka agar tidak tertiup hembusan angin pembawa hoaks.

Dan tentu saja, mungkin Media Massa sedikit tertinggal oleh laju media sosial yang dipegang oleh masyarakat. Tapi bukan berarti hanya bisa diam menggerutu menyalahkan mobilitas media sosial, tetapi adalah bagaimana Media Massa menjawab tantangan ini.

Share :

Baca Juga

Ilustrasi Bom. Foto: Ist.

Editorial

Benarkah Salah Circle Bisa Jadi Teroris Melineal?