Daerah  

Masalah Mikroplastik di Sungai Bengawan Solo Kian Serius

Masalah Mikroplastik di Sungai Bengawan Solo Kian Serius
Masalah Mikroplastik di Sungai Bengawan Solo Kian Serius. Foto: Progresnews.id/Nadia

Gresik, Progresnews.id – Ancaman mikroplastik di Sungai Bengawan Solo semakin serius, kelompok Studi Banyu Jurusan Biologi Unair bersama Tim Ecoton Surabaya menemukan mikroplastik yang terkandung dalam air di Bengawan Solo berasal dari Sragen, Bojonegoro, Lamongan dan pesisir Brondong.

Berdasarkan hasil penelusuran Tim Studi Banyu Jurusan Biologi Unair bersama Tim Ecoton Surabaya, sumber mikroplastik tersebut berasal dari industri tekstil di Jawa Tengah, namun dampaknya dirasakan di Jatim. Sebab, diarea hilir bengawan solo terdapat ribuan hektar lahan perikanan yang bergantung pada kualitas air Bengawan Solo, jika tidak ada keseriusan Pemerintan Pusat pada pengendalian, maka Mikroplastik akan mengancam industri budidaya Ikan di Hilir Bengawan Solo.

Masalah Mikroplastik di Sungai Bengawan Solo Kian Serius. Foto: Progresnews.id/Nadia

Kegiatan yang diselenggarakan sejak 1 sampai 24 Oktober 2020 ini mengambil sampel mikroplastik di wilayah Bengawan Solo segmen tengah. Lebih tepatnya meliputi Sragen (Desa Kebak Kramat), Ngawi (Jembatan Pitu), Bojonegoro (Bendungan Gerak/Trucuk dan Kedung Bendo) dan Lamongan (Laren, Karang geneg, Karang Binangun, Sedayu Lawas/Muara1 dan Terminal Brondong).

“Salah satu penyebab banyaknya mikroplastik adalah tidak adanya sistem layanan pengangkutan sampah oleh Pemerintah Kabupaten Gresik yang menjangkau wilayah Masangan hingga Pangkah wetan. Sehingga, masyarakat menjadikan bantaran Bengawan Solo sebagai tempat sampah. Seperti terlihat di sepanjang pinggiran sungai ditemukan tumpukan sampah di pinggir bengawan di Desa Bungah,” kata Ramadani Joko Samudra selaku Ketua Studi Banyu Himbio Unair.

Ancaman mikroplastik ini, lanjut Joko, menjadi semakin serius ketika wilayah hilir yang memiliki ribuan hektar tambak perikanan ternyata juga telah tercemar oleh mikroplastik tersebut. Pasalnya, budidaya ikan yang berada di wilayah hilir Sungai Bengawan Solo selama ini sangat mengandalkan air dari sungai tersebut. Ditambah, Indonesia masih belum memiliki sistem screening terhadap limbah Mikroplastik.

“Mikroplastik yang teridentifikasi paling banyak ialah jenis Fiber. Mikroplastik jeni Fiber ialah limbah yang berasal dari serpihan tekstil. Senyawa ini sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia,” ungkapnya.

Masalah Mikroplastik di Sungai Bengawan Solo Kian Serius. Foto: Progresnews.id/Nadia

Anggota Himbio Unair, Devida Thalia Salsabella mengatakan, kawasan pesisir menjadi muara bagi mikroplastik yang berasal dari hulu Bengawan Solo. Tercatat, peneliti menemukan di 180 partikel mikroplastik per 100 liter air di Pantai Brondong. Jumlah ini merupakan tertinggi dari sembilan lokasi sepanjang Bengawan Solo.

Mikroplastik merupakan limbah yang paling awam ditemui di sungai-sungai di Jawa. Bentuknya yang mirip dengan plankton atau cacing menjadikan limbah tersebut sasaran makan bagi ikan-ikan dan udang yang berenang dengan intensitas cemaran limbah Mikroplastik jeni fiber tinggi berkemungkinan besar sudah terkontaminasi.

“Ikan dan udang yang sudah terkontaminasi tidak akan bisa mencerna Mikroplastik jenis fiber tersebut. Jika dimakan oleh manusia, maka akan menyebakan ganguan pencernaan serta penurunan imunitas yang sangat berbahaya terutama saat pandemic seperti ini,” tandasnya.

Dengan adanya temuan ini, tentu saja budidaya perikanan yang mengandalkan air Sungai Bengawan Solo menjadi terancam. Dikarenakan bentuknya yang mirip yang pakan utama mereka, yaitu plantok atau cacing. Jika jumlahnya terus meningkat, makan bukan tidak mungkin ikan yang berada dalam tambak akan mulai makan Mikroplastik meskipun sudah diberi pakan oleh peternak.

“Untuk ikan-ikan dan udang yang berada di Sungai Bengawan Solo sebagian besar memang sudah terkontaminasi. Bukan tidak mungkin jika ikan atau udang yang berada dalam penangkaran tambak juga terkontaminasi,” terang Devida.

Masalah Mikroplastik di Sungai Bengawan Solo Kian Serius. Foto: Progresnews.id/Nadia

Tim Studi Banyu Himbio Unair bersama Ecoton Surabaya, mendorong pemerintah untuk membuat regulasi dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kemudian mengutamakan pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran pada industri yang berada kawasan Sungai Bengawan Solo.

“Bengawan Solo ini kan besar sekali sungainya. Dibutuhkan sinergi dari semua pihak tentang bahaya Mikroplastik. Tidak hanya Sunga Bengawan Solo saja, tetapi semua perairan kalau memungkinkan. Karena ini semua demi kepentingan kesehatan bersama,” harap Ramadani, selaku ketua Studi Banyu Himbio Unair.

Editor: Rifqi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.