Opini  

Maqashid Asy-Syari’ah dan Revolusi Industri 4.0

Sumber: Liputan6.com

Perubahan dan perkembangan merupakan suatu hal yang pasti terjadi dalam kehidupan umat manusia. Globalisasi saat ini tengah dialami oleh dunia, perubahan ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan, baik dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan bahkan politik.

Arus globalisasi atau modernisasi ini ditandai dengan munculnya konsep Revolusi Industri 4.0. Revolusi industri 4.0 ini menekankan unsur kecepatan dari ketersediaan informasi, yaitu di mana seluruh entitas sebuah industri selalu terhubung dan mampu berbagi informasi satu sama lain. Pengertian yang lebih teknis disampaikan oleh Kagermann dkk (2013), bahwa Industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri meliputi manufaktur dan logistik serta proses lainnya.

Hal ini telah mengubah pola pikir dan kehidupan manusia di berbagai bidang, termasuk dunia kerja, pendidikan bahkan gaya hidup masyarakatnya. Disinilah peranan Maqashid Asy-Syari’ah tak lain sebagai standar control agar tujuan dibangunnya suatu peradaban yang dikenal dengan istilah revolusi industri 4.0 ini tidak kehilangan arah, tetap disandarkan pada nilai-nilai tauhid dan syari’at. Maqashid Asy-Syari’ah merupakan metode yang luar biasa untuk mengembangkan nilai-nilai dan ruh hukum Islam ke dalam berbagai sendi kehidupan.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 merupakan pertanda atas serangkaian pergolakan sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Ini akan berlangsung selama abad ke-21, membangun pada ketersediaan luas teknologi digital yang merupakan hail dari revolusi industri ketiga. Pada industri keempat ini sebagian besar didorong oleh konvergensi inovasi digital, biologis, dan fisik. Revolusi industri 4.0 ini akan melibatkan perubahan sistemik di banyak sektor dan aspek kehidupan manusia.

Dampak lintas dari sektor teknologi yang muncul lebih penting daripada kemampuan yang mereka wakili.

Konsep Industri 4.0 sendiri pertama kali digunakan di publik pada tahun 2011 saat pameran industri Hannover Messe, di Hannover. Revolusi Industri 4.0 memiliki empat prinsip-prinsip penting, yakni: Interkoneksi, Transparansi Informasi, Bantuan Teknis, dan Pengambilan Keputusan.
 
Maqashid Asy-Syari’ah

Secara etimologi Maqashid adalah bentuk jamak dari maqshad, yang mempunya arti: maksud, sasaran, prinsip, niat, tujuan, dan tujuan akhir.

Sementara secara terminologi maqashid asy-syari’ah ialah makna-makna yang dituju oleh syari’ untuk diwujudkan yang terdapat dibalik ketentuan-ketentuan syaria’ah dan hukum.

Maqashid Asy-Syari’ah sebagai sebuah teori metodologi, dan terminus technicus, baru muncul pada abad ke delapan hijriah, oleh Imam Syatibi yang juga disebut sebagai bapak Maqashid, dengan kitabnya Al-Muwafaqat.

Kata maqasid secara etimologi merupakan bentuk plural dari kata maqsad dalam Bahasa Arab dari kata kerja qashada yang berarti menghendaki, menuju kepada sesuatu, mencari atau meminta sesuatu. 3 Kata ini juga mengandung arti kehendak, maksud dan tujuan untuk dicapai atau diwujudkan.

Adapun kata syariah berarti jalan menuju sumber air atau sumber pokok kehidupan. Maqashid dalam kajian hukum islam adalah tujuan atau maksud yang terkandung di balik sebuah hukum islam.

Selanjutnya bahwa Maqashid Asy-Syari’ah berarti tujuan, maksud atau suatu yang hendak diwujudkan oleh syariah melalui ketentuan-ketentuan hukumnya. Sementara objek kajian yang menjadi bahasan utama di dalamnya adalah hikmat dan ilat ditetapkannya suatu hukum. Menurut Jasser Auda, Al-Maqashid adalah cabang ilmu keislaman yang menjawab segenap pertanyaan-pertanyaan yang sulit, maka Maqashid menjelaskan hikmah dibalik aturan syariat Islam. Wahbah Az-Zuhaili, menuliskan Maqashid Asy-Syari’ah adalah makna dan tujuan yang disimpulkan pada semua hukum atau pada kebanyakannya, atau tujuan syariat serta rahasia-rahasia yang ditetapkan Syari’ pada setiap hukum dari hukum-hukumnya.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa esensi Maqashid Asy-Syari’ah adalah bagaimana mewujudkan tujuan-tujuan atau keinginan Allah yang ada dibalik aturan-aturan yang Dia turunkan. Tujuannya adalah mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudharatan. Dengan demikian, setiap rumusan hukum, baik yang ada sangkut pautnya dengan ibadah maupun relasi sosial (muamalah), harus mempunyai tujuan utama mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudhratan.
 
 
Peran Maqashid Asy-Syari’ah pada Era Revolusi Industri 4.0

Secara umum berdasarkan dalil-dalil naqli dan kasus-kasus parsial menunjukkan bahwa tujuan umum pensyari’atan hukum Islam adalah memelihara sistem atau tatanan kehidupan manusia dan kelestarian kemashlahatan dengan cara menjaga kemashlahatan manusia itu sendiri. Begitu juga globalisasi, khusunya di era revolusi industri 4.0. Maka bisa dikatakan bahwa kaidah umum dalam syari’at Islam adalah untuk mendatangkan mashlahah dan menolak mafsadah. Hal itu dapat tercapai dengan memperbaiki keadaan manusia dan menolak kemafsadatannya. Setiap perbuatan yang mendatangkan mashlahah terhadap manusia tentu akan direalisasikan dan selalu dipelihara.

Sebaliknya, segala perbuatan yang menggerus kemashlahatan dan mengundang kemudharatan pasti dihindari dan dihilangkan. Disinilah peran syari’at hadir untuk memberikan suatu rumusan dalam menyelesaikan suatu problem di di era revolusi industri 4.0. Contoh, tingginya espektasi manusia terhadap nilai produktifitas berdampak pada terabaikanya aspek kebutuhan keseimbangan pola hidup manusia.

Jika dicermati lebih jauh, gambaran tentang revolusi industri 4.0 sudah muncul di zaman Rasulallah SAW. Hal ini dapat dicermati dari peristiwa pemberian wahyu kepada Nabi Muhammad. Yang mana proses sampainya wahyu dari Allah SWT itu melaui media informasi yang disebut dengan Jibril (berbasis cahaya/digital). Bahkan Allah SWT menegaskan bahwa Allah SWT adalah sumber dari segala sumber, cahaya langit dan bumi.

Berdasarkan dengan keterangan ini dapat diketaui bahwa peradaban berbasis digital atau era revolusi industri 4.0 ini merupakan peradaban yang ideal sebagaimana dijelaskan dalam al-qur’an. Kedua, peradaban berbasis digital yang dimaksud dalam Alquran bertujuan untuk membimbing umat manusia menjadi seorang muslim yang kaffah, dan inilah yang dimaksudkan dalam Maqashid Asy-Syari’ah yakni Islam mengahantarkan umatnya menjadi rahmat bagi alam semesta.

Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa globalisasi di era revolusi industri 4.0 bukanlah merupakan suatu hal baru namun jauh sebelum abad ini hal tersebut sudah disampaikan oleh alquran. Dan peranan Maqashid Asy-Syari’ah disini adalah sebagai standar control agar tujuan dibangunnya suatu peradaban yang dikenal dengan istilah revolusi industri 4.0 ini tidak kehilangan arah, tetap disandarkan pada nilai-nilai tauhid dan syari’at.

Penulis: Muhammad Syafri Syamsuddin, mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara
Fakultas Syariah dan Hukum
UIN SUKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.