Home / Nasional / Warta

Rabu, 25 Agustus 2021 - 15:08 WIB

Kurangi Produksi Miras, Perempuan Seroja Bundoyong Kelola Aren Jadi Gula

Reporter : Admin 2

Ibu Ona Samada dan Ibu Risna dari Hutan Desa Bundoyong saat mengikuti webinar Praktik Baik Ibu Bumi dalam mengelola hutan bertajuk Memperkuat Peran kelompok Perempuan dalam program Perhutanan Sosial Di Indonesia, Rabu (25/8).

Ibu Ona Samada dan Ibu Risna dari Hutan Desa Bundoyong saat mengikuti webinar Praktik Baik Ibu Bumi dalam mengelola hutan bertajuk Memperkuat Peran kelompok Perempuan dalam program Perhutanan Sosial Di Indonesia, Rabu (25/8).

Jakarta, Progresnews.id – Sudah begitu banyak peran perempuan dalam menjaga kelestarian hutan di Indonesia. Salah satunya melalui program Perhutanan Sosial (Perhutsos) sebagai bentuk komitmen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Bekerjasama dengan The Asia Foundation (TAF), KLHK gelar diskusi dengar cerita Ibu Bumi dengan tajuk “Praktik Baik Ibu Bumi dalam Mengelola Hutan: Perempuan Bicara untuk Pengelolaan SDA dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”.

Ibu Ona Samada dari Hutan Desa Bundoyong, Parigi Motong, Sulawesi Tengah mengungkap perjuangan kelompok perempuan Seroja dalam mengelola hasil hutan. Mulai dari melakukan pemetaan lahan, mendapat akses legalisasi lahan yang masuk dalam hutan kawasan hingga pengelolaan hasil hutan sebagai sumber penghidupan.

Baca Juga:  Perempuan Adalah Tulang Punggung Konservasi Alam Papua

Menurut Ibu Ona, selain melakukan budidaya kopi dan jahe, pihaknya  juga sudah mendapat fasilitas pembuatan gula aren saat kelompok perempuan yang dipimpinnya bergabung  dalam program Kehutanan Sosial.

“Kenapa kami ke gula aren? Di tempat kami potensi aren sangat tinggi. Selama ini aren hanya diproduksi menjadi minuman keras. Ini menjadi kekhawatiran kami sebagai perempuan, karena akibat dari minuman keras berdampak lebih kepada perempuan dan anak,” kata Ibu Ona, yang juga menjabat sebagai ketua LPHD Bundoyong, Rabu (25/8).

“Jadi kami kelompok perempuan ini mendorong bagaimana cara agar supaya potensi aren tidak sepenuhnya diproduksi untuk miras, sehingga kami mendorong kegiatan pembuatan gula aren,” imbuhnya.

Baca Juga:  Keberlanjutan Perhutanan Sosial, Pengelolaan Hutan Harus dikembalikan Kepada Masyarakat Adat

Ibu Risna, salah satu perempuan Bundoyong  juga menyebut, untuk meyakinkan masyarakat dalam mengolah aren menjadi produk yang lebih positif tidaklah mudah. “Tantangannya cukup sulit. Sudah terlalu banyak masyarakat yang memproduksi,” tuturnya.

Meski demikian, pihaknya tetap komit terus berjuang untuk memanfaatkan hasil hutan ke produksi yang lebih positif.  Selain untuk menambah penghasilan dalam keluarga, hal itu juga dapat mengurangi dampak dari miras, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga.

Share :

Baca Juga

COVID-19

Pastikan Badan Ad Hoc Sehat, KPU Kembali Gelar Rapid Test
Konferensi pers penangkapan pelaku perusakan mobil patroli.

Lamongan

Bak Penjahat Kelas Kakap, Penangkapan Pelaku Perusakan Mobil Polisi di Lamongan Sempat Diwarnai Aksi Kejar-Kejaran

Nasional

Peringatan Hari Ibu, Begini Pesan Bijak Gus Jazil

Nasional

Peringati Hari HAM Sedunia, Jokowi keluarkan 6 Pernyataan
Para pemain seusai mengikuti seleksi yang digelar Askab PSSI Lamongan. Foto: Istimewa.

Lamongan

Askab PSSI Lamongan Mantapkan Diri Tatap Gelaran Puslatkab Porprov 2022 Dengan Tambah 26 Pemain
Kasi Bimas Kemenag Lamongan, M. Khoirul Anam saat memaparkan Ngabuburit di rumah saja. Foto: Ammy/Progresnews.id.

Lamongan

Puasa Kedua di Masa Pandemi, Kemenag Lamongan Serukan Ngabuburit di Rumah Saja
Suasana acara peresmian MPP Lamongan, Rabu (10/2). Foto: Ammy.

Lamongan

Resmi Diperkenalkan, MPP Lamongan Tawarkan Sejumlah Kemudahan
Ketua Komisi IX, Felly Estelita Runtuwene menilai sanksi bagi masyarakat yang menolak vaksinasi tak sesuai dengan WHO, Minggu (14/2). Foto: dpr.go.id.

Nasional

DPR Sebut Sanksi Bagi Penolak Vaksinasi tak Sesuai dengan WHO