Kecelakaan Sriwijaya Air, AJI Ingatkan Media Dan Jurnalis Untuk Perhatikan Kode Etik

Pray For Sriwijaya Air SJ182. Foto: Aji.org.id

Jakarta, Progresnews.id – Kabar duka masih menyelimuti tanah air pasca peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, Sabtu (9/1).

Pesawat dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta – Pontianak itu mengangkut 62 orang dengan rincian, 6 orang kru aktif, 6 kru tambahan, 40 penumpang dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi. Sriwijaya Air jatuh pada pukul 14.40 WIB di kepulauan Seribu, setelah sebelumnya dilaporkan hilang kontak.

Peristiwa ini tentu saja mendapat liputan luas media masa. Tak hanya media lokal, media luar negeri pun tak luput memberitakan peristiwa ini. Namun, dalam proses peliputan dan pemberitaan media lokal ini, dilaporkan ada yang dinilai tidak mematuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Beberapa contoh tindakan jurnalis dinilai tidak sesuai dengan KEJ, seperti jurnalis yang menanyakan, “Bagaimana perasaan anda”, “Apa anda punya firasat sebelumnya?”, dan lainnya, kepada keluarga korban kecelakaan. Seharusnya hal tersebut tak perlu ditanyakan.

Juga ragamnya angle berita yang diambil oleh beberapa media peristiwa ini, seperti topik soal gaji pilot pesawat Sriwijaya Air, lokasi wisata tempat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, AJI menilai hal tersebut mengesankan bahwa jurnalis dan media kurang menghormati pengalaman traumatik keluarga korban dan publik.

AJI menjelaskan, sikap menghormati pengalaman traumatik korban memang tidak disebut eksplisit dalam pasal 2 KEJ, namun itu terdapat penjelasannya.

Pasal tersebut berbunyi, ‘Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang professional dalam melaksanakan tugas Jurnalistik’ dan salah satu bentuk sikap professional itu adalah ‘Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, dan suara’.

Selanjutnya, menghormati pengalaman traumatik narasumber adalah implementasi dari prinsip Minimizing Harm atau meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dampak kerja Jurnalistik.

Prinsip tersebut juga menjadi dasar penyamaran identitas anak pelaku kejahatan dan korban kejahatan susila dalam pasal 5 KEJ, dan beberapa prinsip penting lain dalam KEJ adalah: Fungsi jurnalisme, ‘Mencari kebenaran’, ‘Bekerja untuk kepentingan publik’, ‘Berusaha menjaga independensi’.

Melihat bagaimana jurnalis dan media meliput dan mempublikasikan berita soal peristiwa kecelakaan Sriwijaya Air tersebut, maka AJI Indonesia menyerukan:

  1. Jurnalis dan media harus menghormati pengalaman traumatik keluarga korban Sriwijaya Air dengan tidak mengajukan pertanyaan yang bisa membuatnya lebih trauma, termasuk dengan pertanyaan “Bagaimana perasaan Anda” dan semacamnya.

Jurnalis juga harus mengormati sikap keluarga korban jika tidak bersedia diwawancara atau menunjukkan sikap enggan digali informasinya. Tugas jurnalis memang mencari informasi, namun hendaknya juga memperhatikan hak narasumber untuk dihormati perasaan traumatik atau sikap enggannya. Sebagai bagian dari sikap penghormatan ini, media juga hendaknya tidak mengeskploitasi informasi, foto atau video yang bisa menimbulkan trauma lebih lanjut bagi keluarga dan publik.

  1. Jurnalis dan media hendaknya tetap memegang prinsip profesionalisme seperti diatur dalam pasal 2 Kode Etik Jurnalistik.

Salah satu prinsip bekerja secara profesional adalah dengan menggunakan sumber informasi yang kredibel dan kompeten. Semangat untuk menggali informasi dari banyak sumber adalah hal yang baik untuk mencari kebenaran, namun pemilihan sumber tetap harus mempertimbangkan kredibilitas dan kompetensinya. Menggunakan sumber dari seorang “peramal” sebagai bahan berita kecelakaan seperti ini adalah tindakan yang kurang patut.

  1. Media sebaiknya lebih fokus menjalankan fungsi “informatif” dan “kontrol sosial” dan menghindari sisi yang relevansinya jauh dari peristiwa, apalagi kalau sampai mengesankan tidak menghormati pengalaman traumatik keluarga korban.

Mengangkat soal gaji pilot atau awak penerbangan dan semacamnya mungkin bersifat informatif, tapi kurang tepat pada saat sekarang ini. Kecuali ada indikasi kuat dalam proses penyelidikan bahwa itu menjadi faktor signifikan dalam kecelakaan.

Akan lebih bermanfaat jika jurnalis dan media fokus pada memberi update terbaru tentang peristiwa sehingga bisa membantu publik, termasuk keluarga, dalam bertindak.

Jurnalis dan media juga perlu lebih mengungkap soal aspek tanggungjawab dari perusahaan dan otoritas penerbangan soal keamanan dan kalaikan pesawat, agar bencana serupa tak terulang di masa mendatang.

  1. Jurnalis juga perlu tetap mengikuti protokol kesehatan dalam liputan kecelakaan Sriwijaya Air ini, dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak fisik yang aman untuk menghindari penularan Covid-19.

Selain soal kesehatan, yang juga tetap harus diperhatikan adalah aspek keselamatan dalam liputan. Jurnalis yang bertugas dalam liputan pencarian korban dan puing pesawat di Kepulauan Seribu, hendaknya menggunakan alat keselamatan seperti baju pelampung.

(Jakarta, 11 Januari 2021)

Sumber: https://aji.or.id/read/press-release/1149/jurnalis-dan-media-perlu-perhatikan-aspek-etik-dalam-liputan-dan-pemberitaan-kecelakaan-sriwijaya-air.html#.X_v5ecqAHF9.whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.