Karyawan Waskita Karya Diperiksa KPK Terkait Kasus Subkontraktor Fiktif

Karyawan Waskita Karya Diperiksa KPK Terkait Kasus Subkontarktor Fiktif
Selembar kain hitam yang menutupi logo Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersibak saat berlangsungnya aksi dukungan untuk komisi tersebut di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (10/9/2019). Foto: kabar24.com.

Progresnews.id, Jakarta – Direktur PT Waskita Beton Precast, Antonius Yulianto Tyas Nugroho, telah menjalani pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia diperiksa sebagai saksi untuk Desi Arryani yang merupakan tersangka atas kasus dugaan korupsi terkait pelaksanaan pekerjaan sub kontraktor fiktif pada proyek-proyek PT Wakista Karya.

Selain itu, saksi-saksi yang turut diperiksa antara lain Ketua Koperasi Waskita Ari Wibowo, Riftan Wisesa (Manager Human Capital Wasikta), Tri Yuharlina (Staf Bagian Keuangan), dan M Noor Utomo selaku mantan Auditor PT. Waskita.

Dilansir dari kabar24.com, Ali Fikri, selaku Plt Juru Bicara KPK mengungkapkan para saksi tersebut diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Desi Arryani (DSA) dkk. Pengetahuan para saksi tersebut didalami keterangannya oleh penyidik terkait dugaan penerimaan beberapa aset dan sejumlah uang yang diterima oleh tersangka DSA dkk serta pihak lainnya.

Sebagai informasi, KPK sebelumnya telah menetapkan Yuli Ariandi Siregar (YAS) yang merupakan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Wakista Karya dan Fathor Rahman selaku Kepala Divisi (Kadiv) II Waskita Karya sebagai tersangka.

Yuli dan Fathor serta teman-temannya diduga telah menunjuk beberapa perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktik dalam suatu proyek kontruksi yang sedang dikerjakan oleh emitem berkode saham WSKT tersebut.

Pekerjaat tersebut, sebagian telah dikerjakan oleh perusahaan lain, namun tetap dimanipulasi seolah-olah akan dikerjakan oleh empat perusahaan subkontarktor yang sudah teridentifikasi hingga saat ini.

Empat perusahaan tersebut diduga tidak melakukan pekerjaan tersebut seperti tercantum di dalam kontrak. PT Waskita Karya kemudian melakukan pembayaran perusahaan subkontraktor tersebut atas subkontrak pekerjaan fiktif itu.

Namun, pembayaran dari PT Waskita Karya tersebut dikembalikan oleh empat perusahaan subkontraktor kepada sejumlah pihak, termasuk Yuli Ariandi Siregar dan Fathor Rahman yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi.

Diketahui, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI berdasarkan perhitungan sementara menyebutkan, kerugian keuangan negara diduga mencapai Rp. 186 miliar. Perhitungan itu didapat dari jumlah pembayaran PT. Waskita Karya terhadap perusahaan-perusahaan subkontraktir fiktif tersebut.

Empat perusahaan subkontraktor itu diduga mendapatkan pekerjaan fiktif dari sebagian proyek pembangunan bandara, jalan tol, jembatan, bendungan, serta normalisasi sungai.

Informasi terbaru, terkait perkara ini, KPK juga telah menetapkan tiga tersangka baru. Ketiga tersangka itu adalah Dessi Arryani selaku Direktur Utama Jasa Marga, Jarot Subana (Direktur Utama PT Waskita Beton Precast), dan Fakih Usman selaku Wakil Kadiv II PT Waskita Karya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.