Home / Nasional / Warta

Selasa, 24 Agustus 2021 - 19:18 WIB

Kakao Lembah Grime, Produk Lokal Berkualitas Ekspor

Reporter : Admin 2

Eksportir Kakao yang juga sebagai penggerak Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Makassar, Asdar Marzuki saat menjadi pemateri dalam Market Gathering bertajuk Membangun Kolaborasi Pasar UMKM bersama “ASMAT”, Selasa (24/8).

Eksportir Kakao yang juga sebagai penggerak Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Makassar, Asdar Marzuki saat menjadi pemateri dalam Market Gathering bertajuk Membangun Kolaborasi Pasar UMKM bersama “ASMAT”, Selasa (24/8).

Jakarta, Progresnews.idKakao dari Lembah Grime, Kampung Imsar yang dimobilisasi melalui BUMKAM berhasil menjadi cokelat Cendrawasih, salah satu produk unggulan cokelat Papua. Produk lokal asli Papua tersebut memiliki keunikan dan keunggulan khusus sehingga mampu bersaing di pasar logistik dan juga pasar internasional.

Eksportir Kakao yang juga sebagai penggerak Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Makassar, Asdar Marzuki mengungkap bahwa pada awalnya pihaknya mendapat tawaran dari PUPUK Surabaya dan Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis (PPMA) sebuah komunitas dengan memerhatikan skil ekonominya.

Asdar mengatakan bahwa pada tahun 2005 hingga 2010 papua sempat memproduksi Kakao cukup besar sekitar 9.000 ton per tahun namun setelah itu mengalami degradasi karena beberapa faktor, di antaranya cuaca dan hama.

“Setelah berdiskusi, akhirnya kami ada ide dengan teman-teman pendamping maupun teman-teman PtPPMA dan BUMKam untuk membuat produk berbasis cokelat. Sehingga dapat memberi nilai tambahan yang baik terhadap masyarakat, terutama sekitar hutan. Selain itu juga menjadi kebanggaan terhadap daerah, bahwa kita juga bisa memproduksi produk lokal dan unik,” tutur Asdar dalam Market Gathering: Membangun Kolaborasi Pasar UMKM bersama ASMAT, Selasa (24/8).

Baca Juga:  Program PAPeDA: Menjaga Budaya dan Hutan Fakfak Melalui Pelestarian Pala

Diskusi daring tersebut merupakan serial diskusi penutup dari Festival Torang Pu Para Para yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, diselenggarakan oleh Perkumpulan Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan didukung The Asia Foundation (TAF).

Menurut Asdar, pohon kakao yang mereka kembangkan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan kelestarian. Pihaknya hanya mencoba mengambil nilai dari kakao yang tumbuh di sekitar hutan dengan tidak merusak alamnya.

“Lembah Grime sebagai wilayah yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat, berhubungan tanah, kesuburan dan sebagainya. Sehingga kami coba, mungkin ada biji-bijian yang bisa kami coba kita olah dan lakukan reset. Ada sebuah upaya dari kami, mencoba melestarikan hutan adat tetapi dengan mencoba mengambil nilai dari pohon kakao yang ada,” tuturnya.

Setelah melakukan banyak percobaan dan diskusi, lanjutnya, didapatkanlah sebuah formulasi dengan memanfaatkan fasilitas yang ada  mulai dari proses panen dan pasca panen pohon kakao. “Teman-teman bungkam mencoba melakukan proses panen dan pasca panen, kemudian melakukan langkah pengolahan tahap kedua yaitu fermentasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Tahun 2021, Honorarium PTT di Tuban Mengalami Kenaikan

“Hasil dari sana  itulah yang coba kita produksi. Sehingga didapatkanlah produk yang tidak kalah dari tempat lain, bahkan ada dua hal yang menonjol mulai dari biji yang cukup besar dan menghasilkan lemak yang cukup besar, lebih banyak, kemudian hasil olahannya juga lebih bagus,” imbuhnya.

Menurutnya, selain menjaga gerakan menjaga lingkungan, keinginan masyarakat Papua untuk menciptakan produk lokal yang menjadi kebanggaan yang membuat pihaknya bersemangat mendukung pengolahan pohon kakao.

“Kebanggaan ini akan kita wujudkan dalam program, kebetulan Papuan mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah PON. Ini sebuah momentum yang baik dan pas untuk melakukan kampanye dan penetrasi pasar,” ungkapnya.

Dengan didukung beberapa aplikasi platform ASMAT, PUPUK Surabaya, dan teman-teman Makassar, tuturnya, pasar yang paling terbaik adalah pasar lokal. Lebih-lebih didukung dengan event PON XX dan beberapa perusahaan yang ada di Papua. “Kami kampanye bahwa selain ingin berkontribusi menjaga hutan papua, kami juga membuat take line, kalau ingin tahu rasanya cokelat Papua, ya rasanya adalah rasa sayang sayange,” ungkapnya.

Share :

Baca Juga

Kapolres Lamongan, AKBP Miko Indrayana didampingi Kasat Reskrim AKP Yoan saat menunjukan barang bukti kasus pencabulan. Foto: Ammy/Progresnews.id.

Lamongan

Setubuhi Anak Usia 8 Tahun, Tersangka Mengaku Hiperseksual

Nasional

Gus Muhaimin Bersyukur Permintaan PKB soal Dana Abadi Pesantren Dikabulkan Jokowi
BPBD dan Warga Desa Kramat baksos membersihkan sungai, Minggu (31/1).

Warta

Normalkan Aliran Sungai, BPBD dan Warga Desa Kramat Baksos Bersihkan Sungai
Kusnadi Rusmil saat presentasi daring Temu Media Perkembangan Vaksinasi, Sabtu (23/1).

COVID-19

Perkembangan Vaksinasi di Indonesia, Kusnandi Rusmil: Keuntungan Vaksinasi Jauh Lebih Banyak Daripada Efek Samping
Cita Rasa Khas, Wingko Babat Lamongan Diajukan Untuk Miliki Hak Paten. Foto: Kumparan.

Lamongan

Cita Rasa Khas, Wingko Babat Lamongan Diajukan Untuk Miliki Hak Paten

COVID-19

Polemik Berita Soal Vaksin, Dewan Pers Belum Terima Aduan Terkait Kumparan

Nasional

Menhub Sosialisasikan Kemudahan Perizinan dengan “Si Andalan”
Kepala Kampung Imsar Oscar Giay, Direktur PtPPMA Naomi Marasian, dan Kepala BUMKam Daniel Bairam bersama pembawa acara Novita Kristiani saat mengikuti seri 4 diskusi daring pengelolaan produk inovatif dengan tajuk Olahan Kakao di Lembah Grime yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, Senin (23/8).

Nasional

Sempat Diserbu Hama, Komoditas Kakao Tetap Jadi Andalan Masyarakat Adat Lembah Grime Jayapura