Home / Nasional / Tokoh / Warta

Kamis, 18 Maret 2021 - 21:11 WIB

Ibu Bumi Menjaga Hutan, Tina Ngata Perempuan Adat Visioner

Reporter : Alfa Kamila

Podcast via Saraba Channel: Ibu Bumi Menjaga Hutan, Menjaga Sumber Kehidupan bersama Rukmini Paata Toheke, Tina Ngata dari Ngata Toro, (18/3). Foto : Progresnews.id/Alfa Kamila

Podcast via Saraba Channel: Ibu Bumi Menjaga Hutan, Menjaga Sumber Kehidupan bersama Rukmini Paata Toheke, Tina Ngata dari Ngata Toro, (18/3). Foto : Progresnews.id/Alfa Kamila

Jakarta, Progresnews.id – Mengusung tema “Ibu Bumi Menjaga Hutan, Menjaga Sumber Kehidupan”, event kedua yang diusung oleh The Asia Foundation (TAF) untuk memperingati International Woman Day 2021, mengundang tokoh adat perempuan dari Ngata Toro, Sigi, Sulawesi Tengah, Rukmini Paata Toheke, Kamis (18/3).

Rukmini Paata Toheke sebagai Tina Ngata atau Ibu Kampung di Ngata Toro, menjelaskan bagaimana kontribusi perempuan-perempuan adat dalam menjalankan tupoksi dan menjaga kearifan lokal di sana. Tak hanya sekedar menjadi istri dan ibu rumah tangga lalu mengurus anak, Tina Ngata punya peran penting dan luar biasa di lingkungannya.

Perihal ilmu perbintangan dalam bercocok tanam, masa cocok tanam, pemilihan jenis bibit, dan segala hal untuk mengelola ketahanan pangan ditentukan oleh Tina Ngata di sana. Rukmini menjelaskan bahwa jauh sebelum adanya himbauan dari pemerintah, Tina Ngata sejak dulu sudah paham ilmunya. Bagaimana itu mitigasi bencana, mengelola pangan untuk cadangan ketika nanti datang bencana, dan polemik lingkungan lainnya.

Podcast via Saraba Channel: Ibu Bumi Menjaga Hutan, Menjaga Sumber Kehidupan bersama Rukmini Paata Toheke, Tina Ngata dari Ngata Toro, (18/3). Foto : Progresnews.id/Alfa Kamila

“Itu mitigasi bencana, jauh sebelumnya itu Tina Ngata sudah lakukan. Kami tidak sadar kalau orang tua kami Tina Ngata menyimpan beras selain di lumbung padi, di dalam rumah itu tidak boleh disimpan dalam keadaan kotor. Jadi dia simpan itu dalam blek (toples) itu sampai tiga blek. Kalau tinggal dua blek, dianggap habis. Itu dilakukan untuk situasi bencana baru digunakan,”

Baca Juga:  Polisi Langgar Aturan, Polres Lamongan Sarankan Warga Lapor lewat APK Dumas Presisi

“Dan Rica itu kita dibikin Marihamau, atau kalo sekarang namanya Bon Cabe. Kalau ada panen besar, dia keringkan sudah dan disimpan, tahan sampai satu tahun. Juga kayu-kayu itu simpan dihalvia itu tidak boleh digunakan, hanya digunakan dalam situasi bencana,” Tandasnya.

Tak berhenti sampai di situ, perjuangan para Tina Ngata pun berlanjut pada pengurusan untuk mendapat pengakuan atas hutan adat mereka. Rukmini mengaku bahwa proses yang mereka lalui sangat panjang, dari SK Bupati hingga ke Kementerian Lingkungan Hidup.

Mengenai kondisi geografis Ngata Toro, tak perlu menunggu soal pemetaan lahan hutan adat di sana, Rukmini menjelaskan bahwa leluhur mereka sudah paham bagian-bagian mana yang boleh dikelola dan ditanam, dan bagian mana yang tidak boleh, agar tidak merusak ekosistem alam yang sudah ada.

Baca Juga:  Vaksin Jadi Harapan Baru Bebas dari COVID-19, Gus Jazil Ingatkan Jangan Dibuat Ladang Bisnis

Leluhur Ngata Toro memegang teguh sebuah filosofi yang berbunyi, “Maintuvu mampanimpu katuvua toiboli topehei” yang artinya bersolidaritas, bergotong royong, menjaga sumber daya alam, karena itu pemberian Tuhan.

“Jadi kita hanya boleh mengelola secara arif, ketka kita serakah mengelola, maka akan berdosa tujuh turunan,” ungkap rukmini dengan tegas.

Selanjutnya tak hanya dalam mengelola ketahanan pangan, Tina Ngata juga telah mendirikan sekolah alam bagi anak-anak di Ngata Toro. Tujuannya tak lain adalah untuk menumbuhkan jiwa peduli dan paham pada diri anak-anak kepada lingkungan. Agar kelak saat para Tina Ngata sudah meninggal, maka anak-anak inilah yang akan menjaga dan melestarikan kearifan lokal para leluhur.

“Semua kami siapkan untuk masa depan anak-anak kelak, bagaimana menyimpan kekayaan alam dan mengelola kearifan lokal yang sudah turun-temurun, agar mereka tetap bisa hidup yang cukup dengan alam.” ujarnya.

Share :

Baca Juga

Kemendikbud Buka Kembali Layanan ULT Tatap Muka

Nasional

Dengan Protokol Kesehatan Ketat, Kemendikbud Buka Kembali Layanan ULT Tatap Muka
Mendes PDTT, Abdul Halim Iskandar. Foto: Dok. Kemendes.

Nasional

Genjot PADesa, BUMDes Diakui Sebagai Badan Hukum

Nasional

Minta Masyarakat Jaga Kedisiplinan, Gus Jazil: Larangan Mudik untuk Melindungi Bangsa

Bojonegoro

Melalui Sepak Bola, Perangkat Kalitidu Sambung Persahabatan Dengan Desa Pacul
Syaiful Huda Ketua DPR RI Komisi X saat memberikan sambutan dalam peluncuran Program Sekolah Penggerak, Senin (1/2).

Warta

Komisi X DPR RI Soroti Peluncuran Program Sekolah Penggerak Di Tengah Isu Kesejahteraan Guru dan Krisis Covid-19
Forkopimda Jawa Timur bersama Forkopimda Pemkot Surabaya, didampingi Kapolda Jatim dan Pangdam V Brawijaya

Nasional

Hari Pertama Pemberlakuan PPKM di Surabaya Petugas Lakukan Sidak
Ketua DPRD Abdul Qodir saat Jumpa Pers di Gedung DPRD

Gresik

Dukung Visi-Misi, DPRD Gresik Minta Gus Yani-Bu Min Segera Usung RPMJD
Foto: Dok. Komnas HAM.

Nasional

Usut Bentrokan Pendukung FPI-Polisi, Komnas HAM Bentuk ‘Tim Khusus’