Home / Nasional / Warta

Rabu, 20 Oktober 2021 - 18:19 WIB

Gus Nadir Ajak Para Santri Menjaga Tradisi Intelektual di Pesantren

Gus Nadir Ajak Para Santri Menjaga Tradisi Intelektual di Pesantren

Gus Nadir Ajak Para Santri Menjaga Tradisi Intelektual di Pesantren

Jakarta, Progresnews.id – Berkaca pada penguasaan Taliban di Afghanistan, Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa di Australia, Nadhirsyah Husein mengaku setuju bahwa santri harus terlibat politik, tapi tradisi intelektual tetap harus dijaga di pesantren.

“Saya setuju kita harus terlibat partai politik, seperti yang disampaikan Mbah Ghofur. Tapi, […] tetap saja tradisi intelektual itu harus dijaga di pesantren. Jadi pesantren tetap terus melahirkan berbagai kitab menulis,” ujarnya saat menjadi pemateri dalam Webinar Internasional Peringatan Hari Santri 2021, Rabu (20/10).

Dalam prakteknya, tradisi intelektual itu bisa terwujud juga dalam sikap berdemokrasi para santri. Karena itu, meskipun para santri sepakat dengan demokrasi tapi Gus Nadir juga mengingatkan untuk tidak melupakan kritik terhadap demokrasi di Indonesia.

“Sistem pemilu kita mahal, sehingga kekuatan oligarki menguasai Indonesia. Jadi sehebat-hebatnya, misalnya Mbah Ghofur, kalau mau mencalonkan diri sebagai anggota DPR, misalnya, itu kalau tidak punya 5M atau 10M itu akan susah untuk terpilih. Belum lagi money politic,” kritiknya.

Gus Nadir mengkritik bahwa proses pemilihan umum di Indonesia itu terlalu lama dan terlalu banyak tahapan, dan itu “menguras energi” dan “memicu polarisasi.”

“Partai Islam dan Partai Nasionalis, salah satu pilar dalam demokrasi kita, itu juga menghadapi persoalan internal. Kita ingin demokrasi tapi partai islamnya tidak demokratis,” imbuhnya.

Baca Juga:  Polda Jatim Kantongi Nomor Telepon Penyebar Hoaks Kasdim 0817 Meninggal

Karena itu, tradisi intelektual para santri di pesantren itu sangat penting untuk diperhatikan. Sikap kritis para ulama menjadi kunci untuk mensejahterakan masyarakat.

Gus Nadir juga mengatakan bahwa Imam Al Ghazali menekankan pesan keadilan kepada para penguasa, Imam Al Ghazali ‘berani’ mengkritik para sejawatnya dan para ulama sebagai ‘biang kerusakan rakyat dan penguasa’.

“Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu, kecuali dengan kerusakan penguasa. Dan tidaklah rusak para penguasa, kecuali dengan rusaknya para ulama,” kata Gus Nadir mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali.

“Dalam bagian lain Al Ghazali juga mengingatkan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan,” imbuhnya.

Gus Nadir juga menekankan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) juga harus bisa independen terhadap penguasa dan pengusaha karena jika tidak independen, NU sulit untuk bisa mewujudkan keadilan dan nilai-nilai kesejahteraan sosial yang abstrak itu secara konkrit di masyarakat.

“Perdamaian tanpa keadilan itu hanya sebuah ilusi,” ujarnya dengan mengutip Gus Dur.

Belajar dari Taliban

Berkaca dari kemenangan Taliban dan kekalahan Islam moderat di Afghanistan, Gus Nadir menyebut bahwa salah satu penyebabnya adalah diamnya para ulama saat melihat kejahatan dan korupsi terjadi di Afghanistan.

Baca Juga:  Gus Jazil: Pandemi Corona Harus Menjadikan Kita Lebih Dekat dengan Allah

“Beberapa alasannya adalah Islam moderat di Afghanistan itu membiarkan negara superpower mengeksploitasi kekayaan alam mereka, kemudian memaksakan demokrasi ala Barat, dan banyak sekali pejabat yang korupsi, serta ulamanya diam terhadap ketidakadilan,” ujarnya.

Karena itu, Gus Nadir mengingatkan para santri bahwa demokrasi di Indonesia harus dijaga dan dirawat.

“Kalau demokrasi di Indonesia tidak bisa mengikis korupsi, tidak bisa mendatangkan keadilan, tidak bisa memberikan kesejahteraan, maka rakyat akan berpaling dan terus mencari alternatif sistem lain,” tegasnya.

Salah satu usaha merawat demokrasi itu antara lain adalah dengan membuka dialog dan ruang publik. Karena itu, Gus Nadir sangat mengapresiasi acara Webinar Internasional yang diselenggarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU).

Bertajuk Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknolog, webinar itu dihadiri juga oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Ketua RMI- PBNU Abdul Ghofar Rozin, Rois Syuriah PCI NU Amerika Serikat Ahmad Sholahuddin Kafraw, PCI NU Australia Eva Fachrunnisa, dan Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang Abdul Ghofur Maimoen.

Share :

Editor : Redaksi Progresnews

Baca Juga

Kepala Dinas Sosial Lamongan, Mohammad Kamil. (Foto: Ig. Dinsoslamongan)

Lamongan

Kemensos RI Hentikan Santunan Bagi Korban Covid-19, Jatah 54 Pengaju Asal Lamongan Belum Cair
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Lamongan, Agus Suyanto saat memaparkan terkain BPUM 2021. Foto : Progresnews.id /Ammy.

Lamongan

Mudahkan Alur Pendaftaran, Banpres Usaha Mikro di Lamongan Libatkan Camat dan Kades
Para penjaja penukaran uang di Lamongan.

Lamongan

Buka Lebih Awal, Jasa Penukaran Uang Mulai Bermunculan di Lamongan
Poster promosi Aisha Weddings. Foto: Twitter/Sweta Kartika.

Nasional

Promosikan Pernikahan Anak, KPAI Laporkan Aisha Weddings
Perdana, peserta Miss Fatayat NU Bungah saling beradu kecakapan. Foto: Chidir.

Gresik

Gelar Miss Fatayat NU, Cara Fatayat NU Bungah Cetak Influencer Nahdliyin
Analis Kebijakan di Setda Provinsi Papua, Martha Mandosir dan Peneliti Universitas Papua Yustina Lina Dina Wambrauw bersama Aulina Umaza sebagai moderator dalam diskusi Seri Podcast 1 yang bertajuk ‘Perempuan Hutan Lestari di tanah Papua’, Rabu (25/8).

Nasional

Perempuan Adalah Tulang Punggung Konservasi Alam Papua
Foto Ilustrasi: Gambar: Twitter Resmi United Nations @UN

Jendela

Hari Toleransi Internasional 2021 Usung Tema Climate as a Wicked Problem, Apa Itu?

Nasional

Usai Dilantik Menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim: Ini Kabar Gembira Bagi Universitas