Home / Jendela / Tokoh

Rabu, 29 September 2021 - 12:56 WIB

Eko Jarwanto, Guru Sejarah Inspiratif Penuh Prestasi

Eko Jarwanto, guru sejarah inspiratif penuh prestasi, sedang menunjukkan salah satu buku sejarah karangannya, Ngandjoek. Foto: Progresnews.id.

Eko Jarwanto, guru sejarah inspiratif penuh prestasi, sedang menunjukkan salah satu buku sejarah karangannya, Ngandjoek. Foto: Progresnews.id.

Jendela Tokoh, Progresnews.id – Sebermula adalah membaca. Dari membaca, menjelma sejarah dan mewujud manusia. Mungkin itu gambaran singkat Eko Jarwanto, guru sejarah inspiratif penuh prestasi.

“Kuliah sejarah dulu karena awalnya suka membaca. Senang membaca. Dulu itu kan masih majalah koran, apalagi ada cerita-cerita, cerpen, cerbung, terutama yang bertema kolosal. Itu saya cari, saya kumpulkan,” katanya saat ditemui di SMA Assaadah, Selasa (28/9).

Pria kelahiran Nganjuk, 8 Oktober 1986 itu tak hanya dikenal kalangan luas sebagai sejarawan produktif, tapi juga dikenal orisinalitasnya.

Produktivitas Eko bisa ditelusuri melalui karya-karya tulisan sejarahnya dalam bentuk buku yang sudah terhitung 6 buku bertema sejarah. Selain itu, hampir setiap hari, ia menulis di beranda Facebook tentang peristiwa dan kisah-kisah sejarah dengan sudut pandang dan gaya menulis yang khas.

“Dari minat suka baca, saya kuliah di Universitas Surabaya (Unesa) Jurusan Sejarah. Lalu lanjut sekolah lagi ambil S-2 Ilmu Sosial. Pengennya di Sejarah lagi, tapi untuk menganalisis atau meramu peristiwa sejarah itu tidak hanya cerita belaka, maka di situ perlu ada konsep, teori dan ilmu bantu lainnya,” kata sosok yang kerap disapa Eko.

Orang tuanya lah yang menginspirasi dan memotivasi Eko untuk terus belajar dan haus ilmu. Ia mengatakan, orang tuanya tidak hanya mendorongnya untuk terus belajar, tapi juga membantunya untuk menyediakan bahan-bahan bacaan, cerita dan serial kolosal dari koran-koran bekas.

“Dulu Itu kan di koran ada episode-episodenya. Saya suka kliping itu. Ya, karena orang tua juga jualan nasi pecel, maka beli koran bekas. Belinya langsung setumpuk gitu. Itu saya baca, saya cari-cari. ‘Saya baca ya,’ begitu,” ujarnya.

Kegemarannya membaca itu membuatnya mendapat banyak penghargaan nasional. Ia tercatat 8 kali Juara Tingkat Nasional, misalnya di OGN, Inti Bangsa, Inobel, dan yang lain. Di tingkat provinsi, ia 8 kali mendapatkan juara, misalnya di KTI, Vlog Sejarah, KTI dan yang lain.

Tak hanya itu, dari karya-karya dan semangatnya untuk menggalakkan literasi sejarah,  juga mengantarkannya untuk mengunjungi Jepang dan Australia. Tercatat, ia pernah mengikuti Student Exchange di Aichi University of Education, Jepang (2012) dan Shortcourse di University of Queensland, Australia (2019).

Baca Juga:  KH. Robbach Ma'shum Tutup Usia, Ribuan Warga Padati Masjid Al-Faqihiyyah dan Rumah Duka

Namun, yang patut kita semua hormati dari sosok Eko adalah pengabdian setia dalam mendidik generasi muda untuk terus berkarya dan mengenal jati dirinya sendiri.

Setidaknya, Eko tercatat telah membimbing puluhan generasi muda berprestasi. Ia telah 7 kali membawa murid-muridnya menjadi juara di tingkat nasional seperti di History Week, OSEAN, LKAS, dan sebagainya. Ia pun tercatat 11 kali membimbing generasi muda menjuarai lomba di tingkat Provinsi seperti Hicom, Olimpiade Pahlawan, dan sebagainya. Belum yang ditingkat kabupaten.

Segudang prestasi dan karya itu tak mudah ia dapatkan. Proses panjang telah ia jalani. Berburu data, mencari narasumber, melacak referensi, memeriksa data, hingga mengejar pemahaman utuh sebuah sejarah ia tempuh dengan penuh kesabaran.

“Biasanya kalau saya menulis itu pertama harus cari referensi. Jangan sampai apa yang saya tulis itu sama dengan yang lain. Jangan-jangan sudah ada yang menulis. Itu saya hindari. Biasanya saya searching dulu. Ini sudah ada yang menulis belum, kalau sudah ada, ya saya buru dulu karyanya. Saya baca. Oh, ternyata dari sudut pandang sini, lha berarti saya menulis dari sisi yang lain. Kalau bisa jangan sama. Karena ya menulis itu untuk melengkapi, melengkapi dokumen. Topiknya sama, tapi sudut pandangnya beda. Jadi hal baru, atau sudut pandang lain,” terangnya saat bercerita mengenai proses awal ia berkarya.

Beberapa karya Eko Jarwanto.

Selain itu, Eko juga mengatakan bahwa tantangan utamanya adalah mencari narasumber, ‘karena menulis sejarah itu tergantung sumber.’

“Kalau tidak ada sumber, tidak ada data, maka tidak ada sejarah. Jadi kita tidak boleh mengarang. Harus detil, ini dasarnya dari mana,” lanjutnya.

Dalam pandangan pribadinya, ia mengkritik bagaimana pandangan pendidikan sejarah di Indonesia. Ia menyebut, pendidikan pendidikan sejarah masih perlu dibenahi.

“Kita mengajar sejarah, tapi anak itu kadang belum masuk kesadaran sejarahnya. Padahal yang penting di situ. Jadi tidak hanya sekedar tahu atau mendapat pengetahuan terhadap sesuatu, tapi juga kesadaran sejarah,” ungkapnya.

Baca Juga:  8 Program Kampus Mengajar Kemendikbud

Ia melanjutkan, kesadaran sejarah yang dimaksud adalah termasuk peduli terhadap sejarah lingkungannya sendiri.

“Jadi mungkin anak tahu sejarah dunia, tapi tidak tahu sejarah diri mereka sendiri. Sejarah dusunnya sendiri saja mereka kadang tidak tahu,” ungkapnya.

Karena itu, Eko sering mengajak murid-muridnya untuk bersama-sama memupuk kesadaran sejarah itu melalui hal-hal yang sederhana. Misalnya, mencari sejarah dusunnya, sejarah keluarganya, atau mungkin mencari cerita rakyat.

“Pertama harus tahu dulu. Setelah itu muncul kesadaran. Dan dengan muncul kesadaran, maka anak akan memiliki nilai-nilai karakter lokal. Lah, itu bisa menjadi pedoman hidup dan pedoman diri. Sehingga, dalam mengambil keputusan dan sikap, tetap berpegang pada khazanah budaya lokal. Terlebih dalam arus budaya globalisasi saat ini,” terangnya.

Budaya globalisasi saat ini mendorong anak-anak menyukai hal yang instan-instan. Sebagai guru sejarah inspiratif penuh prestasi, Eko Jarwanto juga merasakan dampak tersebut dalam mengajar sejarah, terutama rendahnya kemampuan membaca anak-anak.

“Siswa itu, ya mungkin membaca, tapi tidak tahan. Keinginan membaca ada, tapi tidak lama. Padahal, membaca itu modal dasar karena untuk ilmu-ilmu sosial itu harus membaca dulu,” tuturnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi anak kurang suka membaca. Mungkin dari segi bukunya itu sendiri bahasanya sulit dicerna. Karena itu, Eko mengingatkan bahwa sejarawan ketika menulis ‘harus tahu target pembacanya’.

Kini, dalam kesehariannya, Eko banyak mengabdikan waktunya untuk mengajar di SMA Assaadah. Ia tinggal di Jln. Sidomakmur, RT. 05/RW.03. Desa Kisik, Kec. Bungah, Kab. Gresik. Di sela-sela waktu senggangnya, ia tetap terus berkarya. Menutup pembicaraan, Eko berpesan kepada generasi muda untuk tidak menyia-nyiakan waktu.

Jangan sia-siakan waktu. Gunakan waktu itu untuk terus belajar, karena waktu itu tidak akan pernah kembali. Waktu itu sangat berharga. Dan belajar itu harus terus sepanjang hidup. Meskipun sudah lulus, harus terus belajar. Dan jangan lupa, kita juga harus menghargai kearifan-kearifan lokal, budaya lokal, sejarah lokal. Saya yang dari luar Gresik saja menulis sejarah Gresik, masak yang dari Gresik tidak mau,” pesannya.

Share :

Editor : Ahmad Maghfur

Baca Juga

Ilustrasi Pelangi: Getty Images.

Jendela

Mengapa Menaruh Harapan Lebih kepada Pelangi? Ia Tidak Selalu Datang Setelah Hujan
Forum webinar dengan pembahasan Seni Thak-Thakan dari Desa Kenanti yang diikuti oleh Dosen Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang, Dr. Robby Hidajat, M.Sn.

Hiburan

Seni Thak-Thakan dari Tambakboyo yang Menyita Perhatian Budayawan Malang
Sisa-sisa pohon kelapa di sekitar bekas Pasar Legi Kaliwot Bungah. Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Gresik

Sejarah Desa Bungah yang Bergelimang Pohon Kelapa

Hiburan

Berkesan Zaman Kerajaan, Warung Joglo Merah Putih Surabaya Semakin Diminati
Kisah Inspiratif Penjual Es Dan Gorengan Yang Mandiri

Daerah

Kisah Inspiratif Penjual Es Dan Gorengan Yang Mandiri

Tokoh

Dukung UMKM Babakbawo Tumbuh, Mahasiswa UTM Hadirkan Milenial Pegiat Startup

Jendela

Tebarkan Hikmah Maulid Nabi, KH Agoes Ali Masyhuri Ingatkan Pentingnya Hidupkan Kembali Sunnah Nabi
Berawal Dari Hoby, Bapak Tiga Anak Ini Berhasil Menekuni Usaha Pembuatan Vas Bunga di Rumah

Daerah

Berawal Dari Hoby, Bapak Tiga Anak Ini Berhasil Menekuni Usaha Pembuatan Vas Bunga di Rumah