Ecological Fiscal Transfer, Gerakan Lingkungan Hidup untuk Generasi Indonesia Mendatang

Rabin Zainal saat menyampaikan penutupan Konferensi Nasional EFT III, di Yogyakarta, Selasa (15/11).
Rabin Zainal saat menyampaikan penutupan Konferensi Nasional EFT III, di Yogyakarta, Selasa (15/11).

Yogyakarta, Progresnews.id – The Asia Foundation (TAF) bersama jaringan masyarakat sipil terus mempromosikan sekaligus merumuskan model yang pas untuk pengoptimalan Ecological Fiscal Transfer (EFT) guna merespon isu perubahan iklim yang dampaknya semakin nyata.

Pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan mutlak dibutuhkan untuk mencapai target-target pembangunan rendah karbon dan Forestry and other Lands Use (FOLU) Net Sink 2030.

Komitmen tersebut dapat terlihat dari berbagai praktik baik, berupa perluasan inisiatif kebijakan Transfer Anggaran Provinsi berbasis Ekologi (TAPE), ditingkat Provinsi, Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE) di tingkat Kabupaten, dan Alokasi Anggaran Kelurahan Berbasis Ekologi (ALAKE), hingga skema Transfer Anggaran Nasional berbasis Ekologi (TANE) yang saat ini sedang dipromosikan.

Memasuki masa Konferensi Nasional EFT III yang digelar pada 14–15 November 2022, Rabin Zainal, dari koalisi masyarakat sipil peduli sumber daya alam dan lingkungan, Pilar Nusantara (Pinus) Sumatera Selatan/KMS PPL memastikan bahwa kedepan EFT akan terus bergerak.

“Karena ini bukan untuk kita sebetulnya, tapi untuk generasi mendatang. Yang kita kerjakan ini hanya bisa dirasakan 10 hingga 20 tahun mendatang. Kita bicara TAPE, TAKE, dampaknya belum kerasa sekarang, tapi nanti 10 tahun lagi baru kita kerasa,” kata Rabin Zainal saat menyampaikan penutupan Konferensi Nasional EFT III, di Yogyakarta, Selasa (15/11).

Lebih lanjut ia mengatakan, tema ‘Konsolidasi Masyarakat Sipil Untuk Memperkuat Pendanaan Lingkungan Hidup dalam Agenda Pencapaian FOLU Net Sink 2030 dan Pembangunan Rendah Karbon’ pada Konferensi Nasional EFT III sangat mulia. Karena konsolidasi yang dilakukan terdiri dari masyarakat sipil, dan berpikir bersama-sama bagaimana mencari pendanaan lingkungan hidup.

“Sedangkan kita juga mungkin masih bingung pendanaan CSO masing-masing seperti apa ke depannya,” tutur Rabin Zainal, dan disambut meriah peserta konferensi. Bagi Rabin Zainal hal itu merupakan satu semangat yang baik sekali untuk dipegang.

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan terlaksananya konferensi pertama, dan kedua. Yang mana, kata Rabin Zainal, dilaksanakan tanpa pendanaan untuk bergerak membangun EFT. “Kita bergerak tanpa ada support dari donor dan lain sebagainya, alhamdulillah apa yang kita cita-citakan tercapai,” terangnya.

Tak lupa, Rabin Zainal juga mengapresiasi Konferensi Nasional EFT III yang jumlah pesertanya bertambah dari konferensi sebelumnya, hal ini akan memperkuat dan mempersolid gerakan EFT ke depan. Bahkan tema-tema yang diangkat mulai berkembang, yaitu membincangkan isu-isu baru, salah satunya carbon market.

“Saya melihat juga ada wajah-wajah baru, anak-anak muda. Kalau kita lihat background konferensi satu, kedua, umurnya sudah bertambah. Kami sangat senang ada anak-anak baru, wajah-wajah baru, kaum muda, perempuan yang mungkin akan jadi penerus dari gerakan-gerakan EFT ini,” tegas Rabin Zainal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *