Home / Nasional / Seremonia / Tokoh

Minggu, 9 Januari 2022 - 16:26 WIB

Belajar Konservasi Lingkungan Hidup dari Kuswandono

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas Kuswandono dan host Arfan Adhi Kurniawan dalam Podcast seri ke-5 Sabtu (8/1).

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas Kuswandono dan host Arfan Adhi Kurniawan dalam Podcast seri ke-5 Sabtu (8/1).

Jakarta, Progresnews.id – Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas Kuswandono menegaskan bahwa konservasi lingkungan hidup tidak sekedar perbincangan semata, tetapi soal praktik atau teladan.

Menurut Kus, sapaan akrabnya, itulah penggambaran yang paling sederhana untuk menjelaskan apa itu konservasi lingkungan hidup.

Kuswandono adalah pribadi yang boleh dibilang tumbuh berkembang di dekat hutan, belajar di bidang kehutanan dan konservasi—di Institut Pertanian Bogor (IPB)— dan bekerja sekaligus mengabdi pula untuk hutan.

“Sebagai yang sejak kecil dekat dengan hutan dan seolah tidak mau jauh darinya, konservasi itu memberi contoh, memulai dari diri sendiri,” jelasnya dalam Podcast seri ke-5 hasil kerja sama antara The Asia Foundation (TAF), Kelompok Kerja (Pokja) PUG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Beritabaru.co sebagai media partner, Sabtu (8/1).

Untuk melakukan kerja konservasi, lanjut Kus, pertama-tama seseorang harus berani untuk melakukan proses pemahaman terlebih dulu. Memahami alam.

Selepas mendapatkan pemahaman, maka yang kedua adalah tahap pengenalan. Pengenalan merujuk pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi.

Baca Juga:  Satgas Pastikan Isu Chip Dalam Vaksin Covid-19 Hoaks

Karena lebih tinggi, tahap ini bisa membantu siapa pun untuk lebih mudah dalam menerapkan prinsip-prinsip konservasi.

“Jadi tahap ketiganya ya penerapan itu sendiri. Dengan ungkapan lain, untuk yang paling pertama yang harus kita lakukan dalam konservasi adalah kenali diri kita sendiri, baru lingkungan,” tegasnya.

Konservasi dan pembangunan

Dalam diskusi yang dipandu oleh Arfan Adhi Kurniawan ini, Kuswandono juga menyampaikan bahwa antara konservasi dan pembangunan tidak perlu dipertentangkan.

Keduanya, kata Kus, harus disikapi secara seimbang. Alasannya, pembangunan tanpa konservasi, hasilnya perusakan dan yang terdampak adalah generasi selanjutnya.

Untuk itu, supaya bisa berkelanjutan, pembangunan harus diimbangi dengan konservasi.

“Kenapa harus berkelanjutan? Karena inti dari pembangunan itu kesejahteraan masyarakat dan kesejahteraan tidak akan ada ketika generasi selanjutnya dikorbankan,” tegasnya.

Lebih jauh, Kus menjelaskan bahwa konservasi memiliki tiga (3) prinsip utama: yakni perlindungan sistem penyangga kehidupan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan.

Baca Juga:  Kompetensi Madrasah Akan ditingkatkan Kemenag Lewat Program CT

Prinsip pemanfaatan berhubungan dengan kenyataan bahwa segala yang diciptakan tidak bisa tidak memiliki manfaat untuk diambil.

“Ada istilahnya itu jasa lingkungan. Ya jadi mau kita manfaatkan atau tidak, manfaat ada dalam diri setiap ciptaan,” papar Kus dalam podcast yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube Beritabaru.co ini. 

PUG di Taman Nasional Way Kambas

Adapun tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) di Taman Nasional Way Kambas, menurut Kuswandono, sudah terjadi di level kerja sama antara pihak Taman Nasional dan masyarakat.

Program-program Taman Nasional Way Kambas diselenggarakan dengan melibatkan tidak saja pihak bapak-bapak, seperti sebelumnya terjadi. Namun, para perempuan, kelompok rentan, dan pemuda dilibatkan juga di dalamnya.

Kus menilai, inovasi dalam pelibatan perempuan dan anak-anak muda penting karena berhubungan dengan regenerasi.

“Jika yang diajak hanya para bapak, maka nanti akan ada keterputusan informasi di level masyarakat dan dampaknya bisa pada konservasi,” ujarnya dalam podcast bertajuk Pengarusutamaan Gender dan Konservasi ini. (*)

Share :

Editor : Redaksi Progresnews

Baca Juga

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, Direktur Eksekutif Perkumpulan Terbatas untuk Pengakajian Masyarakat Adat (PtPPMA) Papua Naomi Marasian, Ahmad Taufik dari The Asia Foundation (TAF), dan Sely Martini dari The Reform Initiative dalam Podcast Seri 3: Belajar Dari Penerapan TAKE Kabupaten Jayapura, Selasa (5/10).

Seremonia

Inovasi Kebijakan Anggaran TAKE untuk Mensejahterakan Warga Kampung
Kepala Subbagian Tata Usaha BPHP Wilayah III Pekanbaru, Kurniawansyah Effendi dalam Podcast seri-6, Publikasi dan Diseminasi Praktik Baik, Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Senin (17/1).

Nasional

Dorong Pengarusutamaan Gender, Kantor BPHP Wilayah III Pekanbaru Sediakan Fasilitas Laktasi
Computational Thinking

Nasional

Kompetensi Madrasah Akan ditingkatkan Kemenag Lewat Program CT
Sesi foto bersama acara diseminasi dan press briefing bertajuk Sinergi dan Pelibatan Aktif Kelompok Rentan Termarginalkan untuk Komunikasi Risiko dan Perlindungan Pandemi yang Setara secara daring yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia dan BNPB, Selasa (10/8).

Nasional

Undang Puluhan Media, LeaN On dan BNPB Gelar Diseminasi Pembelajaran Komunikasi Covid-19 yang Setara
Hanif Alatas dalam suatu forum kajian. Foto: Twitter @AsepSuwarno77

Nasional

Permohonan Kasasi Ditolak MA, Menantu Eks Pimpinan Besar FPI Tetap Divonis 1 Tahun Penjara
Bakal Paslon Picu Kerumunan Massa, KPU Tidak Bisa Didiskualifikasi

Nasional

Komisioner KPU: Bapaslon Yang Picu Kerumunan Massa Tidak Bisa Didiskualifikasi
Mendikbud Nadiem dan Ketua PBNU Said Aqil. Foto: Kemendikbud.

Nasional

Dorong Program MBKM, Kemendikbud Minta Kritik dan Saran PBNU
Staf Khusus Menteri Keuangan (Menkeu) Candra Fajri Ananda sedang menyampaikan pidatonya dalam Konferensi Nasional bertajuk Perkembangan dan Arah Baru Kebijakan Insentif Fiskal Berbasis Ekologi, Rabu (10/11).

Nasional

Stafsus Menkeu Sebut Ekonomi Indonesia Perlu Direformasi