Home / Kolase

Selasa, 9 Februari 2021 - 22:02 WIB

9 Februari Bukan Hari Pers Nasional, Tapi Hari Lahir PWI

Reporter : Alfa Kamila - Telah dibaca 37 kali

Bapak Pers Nasional Indonesia Tirto Adhie Soerjo. Sumber Foto: Wikipedia.

Bapak Pers Nasional Indonesia Tirto Adhie Soerjo. Sumber Foto: Wikipedia.

Progresnews.id – Tanggal 9 Februari seperti yang banyak diketahui adalah Hari Pers Nasional, dan tentu tidak bisa dilupakan juga bahwa hari yang sama adalah hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kiprah wartawan Indonesia sudah dimulai bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Saat itu wartawan Indonesia punya dua tugas penting, yaitu pertama, sebagai aktivis pers yang memberitakan hal-hal penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme kepada rakyat, dan melibatkan diri ke dalam politik untuk melawan penjajah. Kedua, tujuan utama tentunya adalah untuk mengawal Indonesia menuju kemerdekaan.

Setahun kemudian, dibentuklah organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946. Hal ini bertujuan untuk menjadi perisai melindungi Republik Indonesia dari ancaman kembalinya para penjajah. Lahirnya PWI juga menjadi pisau tajam dalam melawan kolonialisme dan menjadi perlindungan dari negara-negara yang ingin menghancurkan Indonesia.

Dilain tempat, tepatnya di Yogyakarta, mendirikan Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) pada 8 Juni 1946. Dalam SPS ini berkumpullah sejumlah tokoh-tokoh surat kabar pada masanya. Saat itu pers masih ada dibawah otoritas penjajah, maka SPS ini hadir untuk menjadi pers nasional yang akan dikelola dalam segi idiil dan komersial oleh negara.

SPS dan PWI melahirkan anggapan pada masyarakat bahwa dua media ini adalah “Kembar Siam”, lantaran lahirnya di waktu uang berdekatan dan punya tujuan yang sama. Kemudian pada 9-10 Februari di Balai Pertemuan “Sono Suko” di Surakarta, seluruh wartawan Indonesia berkumpul di sana, tokoh-tokoh penting pers, pemimpin majalah dan surat kabar, dan lainnya. Dalam pertemuan itu kemudian disepakati bahwa PWI akan diketuai oleh Mr. Sumanang Surjowinoto dengan Sudarjo Tjokrosisworo sebagai sekretaris.

Ulasan tersebut adalah sejarah singkat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), lahir dan tumbuh kembang PWI tentu tidak bisa dilepaskan dari muasalnya, yakni Tirto Adhie Soerjo. Pemuda berdarah bangsawan tersebut lahir di Blora Tahun 1880, dan wafat pada 7 Desember 1918.

Bapak Pers Nasional Indonesia ini, perjalanannya dimulai ketika ia memimpin sendiri surat kabarnya yang diberi nama Soenda Berita pada 1901. Kemudian dilanjutkan dengan mendirikan Mingguan Medan Priyayi pada 1909 dan sayangnya hanya bertahan selama tiga tahun, berhenti terbit pada 1912. Bersamaan dengan lahirnya Mingguan Medan Priyayi, Tirto juga mendirikan sebuah perusahaan penerbitan pertama, N.V Javaansche Boekhandelen Drukkerij “Medan Priyayi” bersama Haji Mohammad Arsjad dan Pangeran Oesman pada 1909.

Baca Juga:  Konvensi Nasional Media Massa, Menkominfo Beri Dorongan Kepada Insan Pers

Tirto memegang teguh prinsip dan tugas pers, adalah harus memajukan dan memahami hak-hak dan martabat rakyat. Tirto juga sangat aktif mengelola media massa, tak hanya sebagai penulis berita, gagasan dan tulisan-tulisannya menjadi pedoman bagi banyak orang. Tirto dinobatkan sebagai Bapak Pers Nasional Indonesia oleh Dewan Pers RI lada 1973.

Dalam buku Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa (2007) yang ditulis oleh Taufik Rahzan, ia menuliskan bahwa dalam buku itu ada 365 mini-biografi pers Indonesia baik cetak maupum elektronik, bahkan tradisi pers di internet.

Taufik Rahzan menulis bagaimana seharusnya Tirto-lah yang harus menjadi patokan sebagai peringatan Hari Pers Nasional Indonesia. Dalam Seabad Pers Kebangsaan itu, ia menyebut Hari Pers Nasional harusnya tanggal 7 Desember, hari di mana Tirto Adhie Soerjo wafat.

Ia juga menuliskan lima alasan mengapa Medan Priyayi juga menjadi patokan daripada buku Seabad Pers Kebangsaan,

Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan berkaok-kaok di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.

Kedua, visi Medan Prijaji yang tereksplisitkan dalam jargonnya yang beridentitaskan kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan hari ini setelah Medan Prijaji tak ada. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa.

Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain jalan pers dengan mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan lewat jalan berorganisasi. Titik tuju dua tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia mengonsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.

Baca Juga:  Hari Pers Nasional dan Hari Prabangsa Nasional

Keempat, karena dilakukan secara sistematis itulah maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah di mana sejarah menjadi patok untuk aksi sejarah ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu dan orang menilai peristiwa itu sebelum dan sesudah peristiwa itu berlangsung.

Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerak selanjutnya. Bahwa sudah ada yang terbit duluan, itu tidak jadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa diserukan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.

Dan kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernih melihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.

Kelima alasan itulah kemudian mengukuhkan bahwa patok pers kebangsaan adalah Medan Prijaji dan Tirto Adhi Surjo menjadi pemancang patok itu. Dengan memancangkan patok ini paling tidak kita menarik dua hal: (1) memiliki protagonis atau tokoh idola yang diteladani baik di dunia pers maupun dalam pergerakan; (2) kita bisa menafsirkan sejarah Indonesia dalam perspektif yang baru.

Sumber: Akubaca, PWI, Kemendikbud.

Share :

Baca Juga

Ilustrasi: Kumparan.com.

Kolase

Hari Pers Nasional dan Hari Prabangsa Nasional
Sisa bekas pagar bangunan Pasar Legi Kaliwot. Foto diambil pada hari Minggu (24/1). Foto: Ipunk/Progresnews.id.

Kolase

Pasar Legi Kaliwot: Filosofi, Kejayaan, Perpindahan dan Potensinya